Dalam Babad Tanah Jawi ia digambarkan memohon Sultan Agung agar membantunya dengan cara serupa.
Tapi, sebagaimana terdapat dalam naskah Diponegoro, tiada yang dapat mengubah nasib sang Dewi karena nasib itu telah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa bahwa dirinya tidak akan lepas dari kerajaan roh halus sampai hari kiamat atau hari pengadilan akhirat ketika semua lapis kehidupan yang beragam disatukan. Begitulah kehendak Allah.
Namun demikian, hal itu tidak membuat Ratu Kidul berhenti memohon kepada para kekasihnya yang menjadi raja agar meminta kepada Allah pembebasan dari nasibnya. Memang, kendati kekuatan dan kecantikannya yang gaib, dewi laut selatan tersebut lebih merupakan tokoh tragis yang patut dikasihani daripada yang diketahui umum. Walaupun mampu menolong, ia juga amat membutuhkan pertolongan.
" Tentu saja demikian pulalah Diponegoro memandang dewi tersebut, dan dengan tegas ia menolak tawarannya untuk membantu, barangkali karena ia pikir waktu itu kemenangan militernya atas Belanda sudah berada di depan mata,"ucapnya.
"Lalu, apa tujuannya memasukkan bagian cerita ini dalam babad karyanya? Salah satu kemungkinan adalah bahwa Diponegoro ingin menempatkan diri setara dengan Senopati dan Sultan Agung, dua-duanya raja yang telah menikmati hubungan istimewa dengan Ratu Kidul dan yang membawa kerajaan Mataram ke puncak kejayaannya,"tambahnya.
Kita telah melihat di atas bagaimana Diponegoro sangat berhasrat menunjukkan persamaan antara dirinya dan Sultan Agung dalam hal olah-rohani dan kekuasaan duniawi.
Pada sisi lain, sang Pangeran mungkin merasa harus merujuk pada perjumpaannya itu untuk menegaskan bahwa ia tidak memerlukan bantuan dari dunia roh halus atau kekuatan gaib yang tak lazim dalam peperangan melawan Belanda. Sebagai seorang muslim yang saleh, ia menaruh kepercayaan kepada Allah.
Lagipula, sebagaimana selalu ditegaskan dalam otobiografinya, tujuannya yang utama selama Perang Jawa adalah kemajuan agama, khususnya “meningkatkan keluhuran agama Islam di seluruh Jawa”, yang mencakup tidak sekadar ibadah Islam yang resmi tapi juga tatanan moral umum (Carey 1974b:285).
"Penolakan Pangeran terhadap pertolongan Ratu Kidul menegaskan keluhuran cita-citanya dan pengorbanannya yang begitu banyak untuk mewujudkannya. Namun demikian, ia tetap terpesona dengan kecantikan dewi yang tak pudar-pudar itu dan dengan ceritera rakyat yang melingkupinya. Seorang Jawa hingga ke sumsum tulang, Diponegoro menangguk ilham dari dunia roh halus leluhur kawasan inti Jawa sebanyak yang ia reguk dari pengabdiannya terhadap Islam dan ajaran-ajaran adiluhung Satariyah.
Sang Pangeran betul-betul jenis “sintesa mistik” yang oleh Ricklefs dikatakan mencapai puncak perkembangannya di Jawa awal abad kesembilan belas (Ricklefs 2006:195–220).
Dalam perjalanannya ke pengasingan, Diponegoro merujuk pada dewi itu secara panjang-lebar dalam percakapannya dengan Knoerle, dan kemudian putranya yang sulung, Pangeran Diponegoro II (1803-pasca-Maret 1856), akan menghasilkan cerita yang sangat mirip tentang perjumpaannya dengan Ratu Kidul dalam karya tulisnya berupa kisah keteladanan tentang Perang Jawa.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.