Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Ratu Kidul di Gua Langse, Menolak Bantuannya

Doddy Handoko , Jurnalis-Rabu, 21 April 2021 |06:38 WIB
Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Ratu Kidul di Gua Langse, Menolak Bantuannya
Pangeran Diponegoro (Foto: Ist)
A
A
A

Dengan demikian, seluruh tempat tersebut punya kaitan yang kuat dengan dunia roh halus Jawa dan masih menarik ratusan pengunjung dari segala penjuru pulau itu.

Pada masa Diponegoro berkunjung ke sana sekitar 1805, tempat itu sudah menjadi tujuan ziarah yang penting, khususnya buat kalangan Keraton Yogya.

Sultan kedua secara teratur melakukan perjalanan ke tempat itu pada awal masa kekuasaannya dan biasanya ia tinggal di Mancingan selama beberapa hari. Paviliun kecil yang terbuka,yang dikenal di Jawa sebagai pondok, sudah didirikan di tepi laut di Parangkusumo, Parangwedang, dan Parangtritis untuk tempat samadi dan aneka upacara yang berkaitan dengan dewi pantai selatan, di samping bangunan kayu yang lebih besar, pesanggrahan atau tem­pat bermalam di Parangtritis, untuk keperluan Sultan dan para pengiringnya selama kunjungan yang dilakukan secara teratur itu.

Juga ada sebidang tanah yang diberikan kepada kalangan agama (wong putihan, arti harfiahnya “orang berpakaian putih”) yang menjaga makam Syekh Maulana dan merawat pondok-pondok. Pada 1812, seorang pengunjung Belanda melihat beberapa di antara wong putihan itu bersamadi dengan seorang muda Jawa “dalam sikap khusyuk” di Parangtritis, dan ia diberitahu bahwa orang-orang sering datang ke sana berdoa untuk mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan atau ketika mereka berada dalam kesulitan.

Ia juga diberitahu tentang suatu gua di pegunungan, barangkali Gua Surocolo atau Gua Langsé, yang sering disinggahi dan di dinding batu karang gua itu terukir nama mereka yang pernah bersamadi di sana. "Karena itu Diponegoro tinggal mengikuti jalan yang sudah lama ada untuk tiba di pantai selatan sebagai seorang muda usia dua puluh,"ucapnya.

Tujuannya adalah mempersiapkan diri untuk menemukan sang Ratu Kidul, dan dalam babad karyanya ia menggambarkan bagaimana ia tinggal di Gua Langsé selama dua minggu, “bergulat menyucikan hasratha­sratnya”.

Setelah keadaan batin dan jasmaninya terasa makin tenang, ia mulai terserap ke dalam keheningan samadi, “suatu keadaan yang mustahil dilukiskan”.

Lalu ia didatangi oleh Ratu Kidul, yang kehadirannya ditandai dengan semburat cahaya. Namun, Diponegoro demikian terserap dalam samadinya hingga sang dewi sadar bahwa “pria itu tidak mempan digoda”, lalu ia mundur sambil berjanji bahwa bila saatnya tiba ia akan datang lagi kepadanya.

Dua puluh tahun akan berlalu sebelum tiba saat yang dijanjikan oleh Ratu Kidul. Ketika itu Perang Jawa sedang sengit-sengitnya dan Diponegoro tengah berkemah di Kamal pada satu cabang Kali Progo di daerah Kulon Progo. Tanggal pasti tidak jelas ada dalam ceritanya, tapi diperkirakan pada pertengahan Juli 1826, mungkin pada malam bulan purnama yang jatuh pada 20–21 Juli.

Berikut ini kisah perjumpaan keduanya seperti yang terdapat dalam Babad Diponegoro:

XXV. 63. "Lalu sang Sultan [Diponegoro] , sedang duduk kala malam di pondoknya, tiada pendampingnya, , karna mereka tidur lelap."

64. "Ia terserap dalam samadi bersandarkan tiang, karna hatinya sungguh berat. Itulah pertanda bahwa mendadak seseorang datang. Seolah-olah ada bintang turun ke pondok. Langsung saja bersila di hadapan Sultan sesosok perempuan.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement