"Yang kami takuti, apabila anak istri kami takut kelaparan karena tidak makan. Siapa yang bertanggung jawab," tanyanya.
Selain itu, mengatur pada aturan agama. Si Supir menjelaskan bila Allah telah menyuruhnya untuk tetap berusaha dan bertanggung jawab kepada anak dan istri. "Itu yang kami pertanggung jawabkan di akherat nanti," tambahnya.
Termasuk saat penindakan larangan mudik. Ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap aparat hukum negeri. Ia mengakui sempat di hardik dan dimarahin saat mudik. "Seakan kami ini teroris, padahal kami ini pejuang dan pahlawan bagi keluarga kecil kami pak," katanya.
Adanya larangan mudik membuat sejumlah penghasilan supir goyang. Ia tak bisa lagi memberikan THR bagi anak dan keluarganya.
"Kami hanya berkata, apakah besok anak anak kami bisa dapat makan? Apakah kalian pernah rasakan disaan kalian tidur nyenyak, ada seorang supir yg terbangun dan tetap bekerja demi menghidupi keluarga demi menafkahi anak dan istrinya," katanya.