Fantastis, Omzet Distributor Rapid Test Antigen Ilegal di Jateng Capai Rp2,8 Miliar

Taufik Budi, Okezone · Kamis 06 Mei 2021 13:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 06 340 2406530 fantastis-omzet-distributor-rapid-test-antigen-ilegal-di-jateng-capai-rp2-8-miliar-ZDzEc5NTCg.jpg Polda Jateng merilis hasil penyelidikan penjualan alat rapid tes antigen ilegal.(Foto:Taufi Budi)

SEMARANG - Dari hasil praktik penjualan alat rapid test antigen ilegal yang dilakukan tersangka SPM (34), pelaku meraup omzet fantastis Rp 2,8 miliar.

Tersangka SPM memasarkan alat rapid test antigen ilegal sejak Januari lalu di kawasan Padangsari, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Jawa Tengah, mulai melakukan penyelidikan sejak adanya informasi peredaran alat rapid test tanpa izin edar pada Januari lalu.

Baca Juga: Poldasu Tetapkan 5 Tersangka Kasus Alat Rapid Test Bekas di Bandara Kualanamu

"Kita dapatkan informasi adanya masyarakat yang menggunakan rapid tes tanpa izin edar," kata Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Lutfi saat rilis kasus di Ditkrimsus Polda Jateng, Semarang, Rabu (5/5/2021).

Polisi lalu melakukan undercover buy atau berpura-pura menjadi pembeli untuk menyelidiki kasus ini. Dari situ, didapati kurir yang membawa 25 boks yang masing-masing berisi 25 alat tes tanpa izin edar.

Baca Juga: Layanan Rapid Test Bekas di Bandara Kualanamu Sudah Terjadi sejak Desember 2020

"Sebanyak 450 pack kita amankan, pelaku mencari keuntungan. TKP di wilayah Genuk Semarang," jelas Luthfi.

Tiga merek alat tes rapid antigen yang diduga tanpa izin edar tersebut adalah 'Clungene', 'Hightop', dan 'Speedchek'. Selain itu ada juga beberapa benda yang tidak memiliki izin edar seperti pulse oximeter, oximeter IP22, dan 59 pack masing-masing berisi 100 pcs stik swab.

"Kalau tidak punya izin edar jangan-jangan dipalsukan. Palsu dan tidak perlu penyelidikan lebih dalam. Jangan-jangan kualifikasi kesehatan tidak memenuhi persyaratan," ujar Luthfi.

Luthfi menyebut penjualan rapid test ilegal ini berlangsung sejak Oktober 2020 hingga Februari 2021. Dalam waktu 1-2 minggu, pelaku bisa menjual 300-400 boks alat tes rapid antigen.

"Dia melakukan aksinya dengan keuntungan Rp 2,8 miliar. Dia lebih murah karena tidak punya izin eda. Diedarkan di wilayah Jateng, di masyarakat umum biasa, klinik dan rumah sakit. Merugikan tatanan kesehatan," tegas Luthfi.

Dirkrimsus Polda Jateng, Kombes Johanson Ronald Simamora, menambahkan bahwa pelaku merupakan distributor dan sales wilayah Jawa Tengah. Dia memiliki rekanan di Jakarta sebagai kantor pusat yang mendistribusikan barang-barang itu ke area Jateng.

"Dia distributor, sales, mencari pasar. Ada pasar dia menghubungi Jakarta, kemudian didistribusikan ke sini, wilayah Jateng ada Pekalongan, Semarang dan luar daerah," jelas Johanson.

Johanson memastikan bakal menetapkan pimpinan perusahaan tempat pelaku bekerja sebagai tersangka dalam kasus ini. Terlebih, penjualan alat kesehatan (alkes) ilegal ini dinilai merugikan masyarakat luas.

"Kemungkinan rencana dirut akan tetapkan jadi tersangka. Kita betul-betul concern pada masalah alkes," ujarnya.

Di kesempatan yang sama, tersangka SPM berdalih sedang mengajukan izin edar. Namun, dia mengaku nekat menjual produk tersebut karena tergiur keuntungannya.

Atas perbuatannya, SPM dijerat pasal 197 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan sebagaimana diubah dalam pasal 60 angka 10 UU Cipta Kerja dengan ancaman 15 tahun penjara dan denda Rp1,5 miliar. Kemudian untuk UU perlindungan konsumen ia dijerat dengan pasal 62 ayat 1 dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp2 miliar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini