JAKARTA - Sunan Pandanaran atau Ki Ageng Pandan Arang dikenal sebagai pendiri kota Semarang.
Selain sebagai Bupati Semarang pertama, ia merupakan tokoh penyebar Islam di Semarang asuhan Sunan Kalijaga.
Di dalam kompleks makam Ki Ageng Pandanaran, di wilayah Mugas, Semarang Selatan, terdapat beberapa benda yang menghiasi dinding, silsilah keluarga, lukisan-lukisan dan beberapa pusaka.
Ada juga petilasan shalat Ki Ageng Pandanaran yang masih terlihat jelas dan tersusun rapi di dalam ruang khusus.
Kompleks makam tokoh legendaris di Semarang ini sudah beberapa kali direnovasi sejak 1975, dulu hanya berupa bangunan dari bambu yang dikelilingi pohon-pohon belantara yang subur.
Baca juga: Gurihnya Keripik Paru Khas Semarang, Jadi Incaran Oleh-Oleh Lebaran
Di sela-sela kesuburan pohon itu, terdapat pohon asam yang jarang (bahasa Jawa: asem arang) yang lantas wilayah itu menjadi cikal bakal nama “Semarang”.
Dalam buku yang diterbitkan Yayasan Sosial Sunan Pandanaran Semarang, selaku pengelola makam Ki Ageng Pandanaran diceritakan Ki Ageng Pandanaran merupakan cucu dari Pangeran Suryo Panembahan Sabrang Lor (Sultan kedua Kesultanan Demak), putra dari Maulana Ibnu Abdul Salam atau Pangeran Madiyo Pandan.
Baca juga: 6 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Wajib Dibawa Pulang
Awal perjuangannya sebagai penyiar agama Islam ketika diutus Sunan Kalijaga dakwah di area Semarang, yang dulunya masih berupa alas, serta karang pinggir pantai.
Ki Ageng berhasil meng-Islamkan sejumlah penduduk yang dulu masih memeluk agama Hindu, termasuk istrinya bernama Endang Sejanila putri dari Pendeta Pragota.
Penamaan Kota Semarang, berasal dari ujarannya ketika dakwah di daerah Bubakan.