13 Truk Angkut Bantuan Kemanusiaan ke Gaza, PBB Cari Dana Bantuan Rp546 Miliar

Susi Susanti, Koran SI · Sabtu 22 Mei 2021 07:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 22 18 2413838 konvoi-bantuan-makanan-dan-obat-obatan-tiba-di-gaza-pbb-siapkan-rp546-miliar-6yEoud7be1.jpg Konvoi bantuan tiba di Gaza (Foto: Reuters)

GAZA - Konvoi pertama bantuan kemanusiaan telah tiba di Gaza setelah gencatan senjata antara Israel dan militan Palestina diberlakukan.

Berbagai badan bantuan, termasuk yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mulai membawa pasokan yang sangat dibutuhkan ke Gaza pada Jumat (21/5), beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan.

Saat briefing PBB di New York, Stéphane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, mengatakan gencatan senjata telah memungkinkan pembantu kemanusiaan yang sangat dibutuhkan untuk mencapai Gaza menyusul pembukaan kembali sebagian dari penyeberangan Karem Abu Salem (Kerem Shalom dalam bahasa Ibrani).

 “Hari ini, 13 truk kemanusiaan dengan makanan, vaksin Covid-19, obat sekali pakai dan obat-obatan, termasuk obat-obatan darurat, kotak pertolongan pertama untuk beberapa badan PBB dan mitra LSM menyeberang ke Gaza menyusul pembukaan kembali sebagian penyeberangan Kerem Shalom,” kata Dujarric.

Awal pekan ini, sebuah penyeberangan kunci ke Gaza di Kerem Shalom dibuka kembali, memungkinkan truk yang membawa obat-obatan, makanan, dan bahan bakar ke daerah kantong tersebut.

Namun tak lama kemudian penutupan dilakukan kembali. Israel mengatakan penutupan itu dipicu oleh militan Palestina yang menembakkan mortir ke daerah itu.

Selama bertahun-tahun Gaza telah menjadi sasaran pembatasan Israel dan Mesir atas perjalanan orang dan barang. Kedua negara menyebutkan kekhawatiran tentang senjata yang sampai ke Hamas.

(Baca juga: Zionis Israel Kuat Gempur Gaza karena Didukung Perusahaan Ini)

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (Unwra) mengatakan prioritasnya adalah mengidentifikasi dan membantu puluhan ribu orang yang mengungsi akibat konflik. Badan tersebut mengatakan bahwa pihaknya segera mencari bantuan senilai USD38 juta (Rp546 miliar).

Menurut badan Anak PBB (Unicef), lebih dari 100.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, dan hampir 800.000 orang tidak memiliki akses ke air pipa di Gaza.

Namun gencatan senjata itu kembali dinodai oleh bentrokan baru di kompleks masjid al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki pada Jumat (21/5) usai solat Jumat.

Konflik menghantam Gaza dengan sangat keras, menyebabkan ribuan orang terlantar dan ratusan ribu orang dengan akses terbatas ke air dan listrik.

(Baca juga: 5 Akal Licik Israel Singkirkan Warga Palestina)

"Kerusakan yang diakibatkan dalam waktu kurang dari dua minggu akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, untuk dibangun kembali," kata Fabrizio Carboni, direktur Timur Tengah untuk Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Pertempuran antara Israel dan militan Palestina di Gaza dimulai pada 10 Mei setelah berminggu-minggu meningkatnya ketegangan Israel-Palestina yang memuncak dalam bentrokan di al-Aqsa, sebuah situs suci yang dihormati oleh Muslim dan Yahudi.

Hamas, kelompok militan Palestina yang menguasai Gaza, mulai menembakkan roket setelah memperingatkan Israel untuk menarik diri dari situs tersebut, memicu serangan udara balasan.

Menurut kementerian kesehatan Gaza, setidaknya 248 orang, termasuk lebih dari 100 wanita dan anak-anak, tewas. Israel mengatakan pihaknya menewaskan sedikitnya 225 militan selama pertempuran itu. Hamas belum memberikan angka korban bagi para pejuang.

Di Israel 13 orang, termasuk dua anak dan seorang tentara Israel, tewas, kata layanan medisnya.

Pada Kamis (21/5), Kementerian Perumahan Gaza mengatakan 16.800 unit rumah telah rusak selama konflik. Dari jumlah tersebut, 1.800 tidak layak untuk hidup dan 1.000 lainnya hancur, kata kementerian itu.

Seorang warga Palestina, Samira Abdallah Nasser, mengatakan rumah dua lantai miliknya terkena ledakan selama pertempuran, membuatnya menjadi reruntuhan.

"Kami kembali ke rumah kami dan kami tidak punya tempat untuk duduk, kami tidak punya air, kami tidak punya listrik, kami tidak punya tempat tidur, kami tidak punya apa-apa," katanya kepada kantor berita Reuters.

"Kami kembali ke rumah kami yang hancur total,” lanjutnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini