Rumah pembesar dan pejabat di bagian depan tampak asri pohonan sinom dan daun asam muda di belakang joglo, rumah Gebyog dari kayu jati yang dihiasi ukiran kekembangan.
Rumah para abdi dalem di sekeliling kota, rumah dara-gepak tampak asri bagus dengan pagar anyaman bambu ori yang bersimpul anyam-anyaman limang pakan, yang menjadi lambang dari “Pancawignya” (yaitu: Gotrah (pemimpin Keluarga), Pekah, Pomah (Keluarga), Kradah (Sanak Saudara), dan Pamerintah).
Dalem Kraton di tata dengan berbagai hiasan, landasan Saka-Guru dari Watu Selad yang dipahat dan diukir dengan motif Kembang Tunjung, langit-langit penuwun (atap) dhada-peksi tumpang-sari bertingkat tujuh, ganja pipilan curi lumah kurep; rumah Gebyok dihiasi ukiran pending melati selangsang.
Dindingnya dari batu bata persegi yang besar-besar dan halus, kepala rumah terpayungi dengan atap papan dengan wuwungan ditutup dengan gendheng(atap rumah dari tanah liat) yang diukir cantik.
"Keberadaan kerajaan Lasem tercantum di Nagarakretagama pupuh VI melukiskan saudara perempuan Hyam Wuruk beserta suaminya masing-masing.
Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki tangkas Rani Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasawardana, sangat bagus lagi putus dalam naya.Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala,"paparnya.
Namun, sampai kini situs peninggalan kerajaan Lasem hancur berantakan bahkan ada yang hilang , jadi pemukiman penduduk atau tak terurus dimakan jaman.
"Puluhan situs era majapahit banyak yang rusak. Situs bekas kraton Dewi Indu juga telah hilang. Kotaraja kerajaan Lasem telah lenyap di bawah tanah. Ironis, padahal dulu kerajaan bagian Majapahit,"ucapnya getir.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.