Bantuan Kemanusiaan untuk Rakyat Palestina Tiba Usai Gencatan Senjata, Perlu Bertahun-tahun Bangun Kembali Gaza

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 23 Mei 2021 08:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 23 18 2414170 bantuan-kemanusiaan-untuk-rakyat-palestina-tiba-usai-gencatan-senjata-perlu-bertahun-tahun-bangun-kembali-gaza-pAJYLyG27j.jpg Bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina tiba di Jalur Gaza.(Foto:Getty Image)

GAZA - Konvoi pertama bantuan kemanusiaan telah tiba di Gaza beberapa jam setelah berlakunya gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hamas Palestina, Jumat (21/5/2021) dini hari.

Ribuan warga Palestina kembali dari pengungsian, namun melihat tempat tinggal mereka sudah hancur. Kalangan pejabat setempat menyatakan perlu bertahun-tahun untuk melakukan rekonstruksi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan pembentukan koridor khusus bagi warga yang luka-luka untuk dievakuasi.

Lebih dari 250 orang tewas akibat konflik bersenjata 11 hari, sebagian besar di Gaza. Baik Israel maupun Hamas saling mengeklaim kemenangan.

Di Israel selatan, para warga turut merayakan gencatan senjata, namun banyak yang khawatir bahwa konflik sewaktu-waktu bisa muncul lagi.

Baca Juga: Anies Serukan Dukungan untuk Palestina: Saudara Kita Sedang Mengalami Cobaan yang Tidak Kecil

Truk-truk dari berbagai lembaga bantuan, termasuk yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), telah berdatangan dengan membawa barang-barang kebutuhan medis, pangan, dan bahan bakar ke Gaza, setelah Israel membuka pos perlintasan Kerem Shalom.

Lebih dari 100.000 orang terpaksa mengungsi dari rumah-rumah mereka di Gaza, yang dikuasai kelompok Hamas, dan hampir 800.000 orang kini tidak memiliki akses ke air bersih, ungkap badan PBB urusan anak-anak Unicef.

Kalangan pejabat Palestina mengatakan butuh jutaan dolar untuk membangun kembali wilayah-wilayah yang hancur, apalagi kini penduduk tengah dikhawatirkan dengan pandemi Covid-19.

Margaret Harris, juru bicara WHO, menyerukan segera dibuka akses bagi pasokan medis dan tenaga kesehatan ke Gaza, karena fasilitas kesehatan di wilayah itu berisiko dipenuhi oleh ribuan warga yang luka-luka.

Selama bertahun-tahun, Gaza sering diblokade oleh Israel dan Mesir sehingga menyulitkan lalu lintas warga dan barang. Alasan dari kedua negara itu adalah khawatir adanya pasokan senjata ke Hamas.

Badan PBB urusan Pengungsi Palestina (Unwra) mengatakan bahwa prioritasnya adalah mengidentifikasi dan membantu puluhan ribu warga yang kehilangan tempat tinggal, sehingga segera butuh bantuan US$38 juta.

Pada Kamis (20/5), Kementerian Perumahan Gaza mengatakan bahwa 1.800 unit rumah sudah tidak layak huni dan 1.000 unit sudah hancur.

"Kerusakan yang dibuat dalam kurun kurang dari dua pekan akan butuh waktu bertahun-tahun, jika tidak puluhan tahun, untuk membangun kembali," kata Fabrizio Carboni, Direktur Timur Tengah dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Warga Gaza bernama Samira Abdallah Nasser mengaku rumahnya yang bertingkat dua di dekat Kota Beit Hanoun hancur lebur akibat serangan.

"Ketika pulang ke rumah, kami sudah tidak punya tempat untuk berteduh, sudah tidak ada air, listrik, tempat tidur, semuanya sudah tidak ada lagi," kata Samira kepada kantor berita Reuters. "Kami pulang ke rumah yang sudah hancur seluruhnya."

Warga lainnya bernama Azhar Nsair kepada Associated Press mengatakan, "Kami melihat kehancuran yang begitu besar di sini, baru kali ini kami menyaksikannya."

Pertempuran antara Israel dan kelompok Hamas di Gaza dimulai 10 Mei setelah ketegangan yang kian panas selama beberapa pekan yang berpuncak pada bentrokan antara polisi Israel dan warga Palestina di kompleks masjid al-Aqsa di Yerusalem Timur.

Hamas saat itu mulai menembakkan roket setelah memperingatkan aparat keamanan Israel untuk mundur dari kompleks suci itu, dan dibalas oleh Israel dengan serangan udara.

Sedikitnya 248 orang, termasuk lebih dari 100 perempuan dan anak-anak, tewas di Gaza, menurut kementerian kesehatan setempat. Israel mengklaim telah membunuh sedikitnya 225 militan selama pertempuran 11 hari, namun Hamas belum mengumumkan data soal jumlah anggotanya yang tewas.

Di Israel, 13 orang termasuk dua anak-anak dan seorang tentara tewas, ungkap layanan medis negara itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini