Kondisi Keamanan Tak Pasti, Australia Akan Tutup Kedutaan di Afghanistan

Susi Susanti, Koran SI · Selasa 25 Mei 2021 13:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 25 18 2415218 kondisi-keamanan-tak-pasti-australia-akan-tutup-kedutaan-di-afghanistan-buuCmmD92q.jpg PM Australia Scott Morrison umumkan penutupan kedutaan Australia di Afghanistan (Foto: EPA)

AUSTRALIA - Australia akan menutup kedutaan besarnya di ibu kota Afghanistan, Kabul pada Jumat (28/5) mendatang saat penarikan pasukan internasional berlanjut.

Dalam sebuah pernyataan, Canberra berbicara tentang "lingkungan keamanan yang semakin tidak pasti" di negara itu.

Nantinya diplomat Australia akan mengunjungi Afghanistan secara teratur - tetapi akan ditempatkan di tempat lain di kawasan itu.

Perdana Menteri Scott Morrison dan Menteri Luar Negeri Marise Payne mengeluarkan pernyataan bersama pada Selasa (25/5).

"Kami akan menutup gedung Kedutaan Besar kami pada 28 Mei 2021," kata dokumen itu.

“Merupakan harapan Australia bahwa tindakan ini akan bersifat sementara dan kami akan melanjutkan kehadiran permanen di Kabul setelah keadaan memungkinkan,” lanjutnya.

"Australia tetap berkomitmen pada hubungan bilateral dengan Afghanistan, dan kami akan terus mendukung stabilitas dan pembangunan Afghanistan bersama negara lain,” tambahnya.

(Baca juga: Italia Selidiki Insiden Kereta Gantung Jatuh yang Tewaskan 14 Orang)

Pernyataan itu tidak menyebutkan di wilayah mana para diplomat Australia akan dipindahkan.

Ada kekhawatiran bahwa penarikan pasukan NATO yang dipimpin Amerika Serikat (AS) dapat menjerumuskan Afghanistan kembali ke dalam perang skala penuh.

Pada April lalu, Presiden AS Joe Biden mengatakan pasukan AS akan pergi pada 11 September mendatang, setelah 20 tahun keterlibatan militer di Afghanistan.

"Ini adalah waktu untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika," kata Biden.

Setidaknya 2.500 tentara AS adalah bagian dari misi Afghanistan yang berkekuatan 9.600 orang.

Selama dua tahun terakhir, Australia telah mengurangi jumlah tentaranya di Afghanistan dari sekitar 1.500 orang menjadi sekitar 80 orang.

(Baca juga: Uskup Gereja di Norwegia Serukan Boikot Produk-Produk Israel)

Para pejabat AS dan NATO baru-baru ini mengatakan Taliban, sebuah gerakan Islam garis keras, sejauh ini gagal memenuhi komitmen untuk mengurangi kekerasan di Afghanistan.

Seperti diketahui, sebuah kesepakatan yang ditandatangani pada Februari tahun lalu mengatakan AS dan sekutu NATO-nya akan menarik semua tentaranya dalam 14 bulan jika Taliban menepati janjinya, termasuk tidak mengizinkan al-Qaeda atau militan lain untuk beroperasi di wilayah yang dikuasainya dan melanjutkan pembicaraan perdamaian nasional.

Sebagai syarat untuk memulai negosiasi dengan pemerintah Afghanistan, Taliban juga menuntut pembebasan ribuan orangnya sebagai tawanan tukar.

Meskipun kelompok itu menghentikan serangan terhadap pasukan internasional sebagai bagian dari perjanjian bersejarah, mereka terus memerangi pemerintah Afghanistan.

Awal bulan ini, 60 orang, sebagian besar perempuan, tewas dalam ledakan di luar sekolah menengah di Kabul.

Tidak ada yang mengaku melakukan serangan di Dasht-e-Barchi, daerah yang sering dilanda militan Islam Sunni.

Pemerintah Afghanistan menyalahkan Taliban atas serangan itu, tetapi kelompok itu membantah terlibat.

(sst)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini