"Yang sudah lama saya khawatirkan, kini benar-benar terjadi. Orang-orang komunis menusuk dengan belati di punggung kita, ketika kita sedang menghadapi Belanda. Yang saya pikirkan, bila sewaktu-waktu Belanda menyerbu ke Yogya, kekuatan militer kita jangan tercerai berai. Itu sebabnya saya perintahkan kepada Markas Besar untuk mempercepat penghancuran terhadap pemberontakan PKI di Madiun,” jelas Sudirman.
Bila memperhatikan tubuhnya yang kurus kering, wajah pucat karena kurang istirahat, pihak pemerintah Belanda tak pernah mengira bila lelaki kurus ini telah membuat pasukan Belanda kalang-kabut.
Belum lagi para saksi mata yang tak habis berpikir, karena keajaiban dan kejadian-kejadian mistis senantiasa melingkupi perjalanan gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman ini. Seperti, cundrik yang bisa mendatangkan hujan, merica yang bisa mengaburkan pesawat Belanda dan sebilah keris yang selalu menjadi pertanda.
Di balik wajah pucat itu sinar matanya tak pernah berubah – tajam berkharisma, membuat Simon Spoor frustasi. Operasi pengejaran Sudirman selalu gagal. Saat Sudirman kembali ke Yogyakarta, rakyat menyemut di pinggir jalan menyambut.
Air mata jadi saksi bagaimana lelaki kurus pengidap TBC akut itu telah gemilang mempertahankan martabat negeri. Ia berhasil mengusir berbagai aral rintang, tapi tak berhasil mengusir penyakit TBC yang bersarang di tubuhnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.