Lindungi Habitat Beruang Kutub, Biden Tangguhkan Pengeboran Minyak

Susi Susanti, Koran SI · Rabu 02 Juni 2021 11:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 02 18 2418791 lindungi-habitat-beruang-kutub-biden-tangguhkan-pengeboran-minyak-1i5btbu4MS.jpg Beruang kutub (Foto: Reuters)

ALASKA - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan menangguhkan sewa pengeboran minyak dan gas di Suaka Margasatwa Nasional Arktik, Alaska sambil menunggu tinjauan lingkungan.

Langkah ini membatalkan keputusan mantan Presiden Donald Trump untuk menjual sewa minyak untuk memperluas bahan bakar fosil dan pengembangan mineral.

Hutan belantara raksasa Alaska adalah rumah bagi banyak spesies penting, termasuk beruang kutub, karibu, dan serigala.

Seperti diketahui, pada Januari lalu, Trump mendorong penjualan hak untuk mengebor minyak di sekitar 5% dari tempat perlindungan, hanya beberapa hari sebelum masa jabatan presidennya berakhir.

Meliputi sekitar 19 juta acre (78.000 km persegi), Suaka Margasatwa Nasional Arktik (ANWR) sering digambarkan sebagai hutan belantara besar terakhir di AS.

Ini adalah lokasi yang sangat penting bagi banyak spesies, termasuk beruang kutub. Selama kampanyenya, Biden berjanji untuk melindungi habitat beruang kutub.

(Baca juga: Posting Gambar Rumah Sakit, Mengklaimnya Sebagai "Markas Hamas", Politikus Israel Dikecam)

"Presiden Biden percaya harta nasional Amerika adalah landasan budaya dan ekonomi negara kita," kata Penasihat Iklim Nasional Gedung Putih Gina McCarthy dalam sebuah pernyataan.

"Dia berterima kasih atas tindakan cepat oleh Departemen Dalam Negeri untuk menangguhkan semua sewa sambil menunggu tinjauan keputusan yang dibuat pada hari-hari terakhir pemerintahan terakhir yang bisa mengubah karakter tempat khusus ini selamanya," lanjutnya.

Para pemimpin suku Arktik memuji keputusan itu dan menyambut baik langkah tersebut.

"Saya ingin berterima kasih kepada Presiden Biden dan Departemen Dalam Negeri karena mengakui kesalahan yang dilakukan terhadap rakyat kami oleh pemerintahan terakhir, dan untuk menempatkan kami di jalan yang benar ke depan," ungkap Tonya Garnett, koordinator proyek khusus untuk Desa Asli Pemerintahan Suku Venetie, dalam sebuah pernyataan.

(Baca juga: Bos Mafia yang Lakukan 100 Pembunuhan Dibebaskan, Tuai Kemarahan dan Kecaman)

"Ini menunjukkan bahwa, tidak peduli kemungkinannya, suara Suku kita penting,” ujarnya.

Penjualan pertama dari bagian-bagian tempat perlindungan mendapat sedikit minat dari industri minyak dan gas. Penjualan ini hanya menghasilkan tawaran tinggi sekitar USD14 juta (Rp200 miliar).

(sst)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini