JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyetujui vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech untuk penggunaan darurat atau Emergency Use Listing (EUL) atau Daftar Penggunaan Darurat.
Kabar baik ini membuka jalan bagi vaksin buatan China itu untuk digunakan semakin luas di berbagai negara. Panel pakar independen merekomendasikan vaksin Sinovac untuk orang dewasa berusia di atas 18 tahun, dengan pemberian dosis kedua dua 2 sampai 4 pekan setelah yang pertama.
Okezone pun merangkum fakta-fakta WHO yang memberikan penggunaan izin darurat Vaksin Sinovac:
Diprediksi Dapat Izin Penggunaan Darurat WHO pada Akhir Mei
Satgas Covid-19 memperkirakan EUL atau Daftar Penggunaan Darurat diberikan WHO kepada vaksin Sinovac pada akhir Mei 2021.
"Vaksin Sinovac telah mengikuti prosedur pengurusan EUL dan prediksi pemberian EUL yaitu pada akhir bulan Mei 2021," kata Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito pada 16 April 2021 lalu.
Baik vaksin Sinovac dan AstraZeneca sendiri sudah mendapatkan UEA dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk digunakan di Indonesia.
Tidak Ada Batasan Usia Penggunaan Vaksin Sinovac
Tidak ada batasan usia atas karena data menyebutkan vaksin ini memiliki efek perlindungan pada orang tua. Tim penasihat teknis WHO mengambil keputusan setelah meninjau data klinis terbaru mengenai keamanan dan kemanjuran vaksin Sinovac serta praktik manufaktur perusahaan.
WHO menjelaskan, tingkat kemanjuran vaksin Sinovac untuk mencegah gejala penyakit pada 51 persen penerima, mampu mencegah Covid-19 parah, dan rawat inap pada 100 persen populasi yang diteliti. Sementara itu Kelompok Penasihat Strategis (SAGE) yang terpisah dari WHO sebelumnya mengungkap, kemanjuran vaksin ini berdasarkan uji klinis Fase III di berbagai negara berkisar antara 51 hingga 84 persen.
Izin Penggunaan Darurat dari WHO Jadi Jaminan Penggunaan Vaksin Sinovac
Daftar darurat vaksin Covid-19 WHO merupakan sinyal bagi regulator di setiap negara untuk mendapat jaminan keamanan dan kemanjuran suatu produk. Ini juga memungkinkan produk China itu dimasukkan dalam program Covax yang diinisiasi WHO.
Covax sendiri merupakan program global untuk menyediakan vaksin, terutama bagi negara-negara miskin yang menghadapi masalah pasokan. CoronaVac, nama dari produk tersebut, merupakan vaksin kedua dikembangkan China yang mendapat persetujuan dari WHO untuk penggunaan darurat.
Sinopharm lebih dulu mendapatkan izin yakni pada 7 Mei 2021. Sementara itu vaksin ketiga dari China yang diproduksi oleh CanSino Biologics telah mengirimkan data uji klinis, namun WHO belum menjadwalkan peninjauan.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.