Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Saat Ibunda Soekarno Membenci Orang Belanda

Widi Agustian , Jurnalis-Selasa, 08 Juni 2021 |07:28 WIB
Saat Ibunda Soekarno Membenci Orang Belanda
Foto: Wikipedia/ Ist
A
A
A

JAKARTA - Soekarno merupakan Presiden Pertama Indonesia. Pada masa perjuangan kemerdekaan, tentu bukan periode waktu yang mudah untuknya.

(Baca juga: Kisah Mistis Bung Karno dan Parfum Favoritnya)

Masuk penjara pun tampaknya merupakan hal yang lumrah bagi Soekarno. Tetapi, tentu hal ini akan sangat membuat perasaan sang ibunda Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai menjadi hancur.

Ketika mendengar berita tentang ditahannya Soekarno di Penjara Sukamiskin Bandung. Nyoman Rai Srimben langsung menuju Bandung dan mendatangi Penjara Sukamiskin.

Karena dia buta politik, dirinya langsung bertanya kepada petugas rumah tahanan. Bukan jawaban yang diperolehnya melainkan bentakan dan diusir untuk pergi dari rumah tahanan tersebut. Demikian dikutip dari "Ibu Indonesia Dalam Kenangan" karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk, seperti dilansir dari Perpusnas.

(Baca juga: Ketika Bung Karno Pesan 50 Tusuk Sate Ayam saat Bulan Ramadan)

Sejak saat itu dendam Nyoman Rai Srimben tidak terbendung, di manapun berada jika melihat orang Belanda ia memperlihatkan ketidaksukaannya. Di saat yang sama rumahnya di Blitar diawasi karena putranya melawan penjajahan Belanda.

Nyoman Rai Srimben menceritakan kejadian yang dialaminya di rumah tahanan sehingga akhirnya R Soekeni memutuskan untuk pensiun dini sebagai guru dari Kementerian Pendidikan Belanda di Batavia.

Memasuki masa pensiun Nyoman Rai Srimben terus mendampingi suaminya di Blitar sambil tetap menunggu surat, berita Koran atau berita burung yang dibawa saudara atau kenalannya tentang putranya Soekarno baik di dalam maupun di luar tahanan.

Kehidupan di Blitar kembali bergemuruh ketika Nyoman Rai Srimben mendengar bahwa putranya bercerai dari Inggit dan kemudian menikah dengan Fatmawati, semua beritanya diterima dengan tabah.

Hasil pernikahan Soekarno dengan Fatmawati memberikan seorang cucu yang sangat diharapkan oleh Nyoman Rai Srimben dan R Soekeni. Nyoman Rai Srimben dan R Soekeni menyaksikan kelahiran cucunya di Jakarta.

Kebahagiaan Nyoman Rai Srimben tidaklah lama karena pada saat berjalan-jalan di Jakarta R Soekeni terjatuh dan sakit keras hingga akhirnya meninggal pada tanggal 8 Mei 1945. Kemudian Nyoman Rai Srimben kembali ke Blitar.

Di hari tuanya ketika Soekarno telah menjadi orang pertama di Republik Indonesia, Nyoman Rai Srimben tidak pernah mau menginjakkan kakinya di Istana Negara. Nyoman Rai Srimben menjadi pelopor perkawinan campur antar suku, sehingga mungkin memberikan inspirasi kepada Soekarno untuk menyatukan Nusantara menjadi Republik Indonesia.

Pada tanggal 12 September 1958, Nyoman Rai Srimben meninggal dunia dan dimakamkan berdampingan dengan makan putranya Soekarno dan suaminya R. Soekeni Sosrodihardjo.

(Fahmi Firdaus )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement