Junta Myanmar Buka Kasus Tuduhan Korupsi Terhadap Aung San Suu Kyi

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 10 Juni 2021 11:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 10 18 2422900 junta-myanmar-buka-kasus-tuduhan-korupsi-terhadap-aung-san-suu-kyi-6UE0GmeISo.jpg Pemimpin sipil Myanmar Aung San Suu Kyi. (Foto: Reuters)

NAYPYIDAW - Junta Myanmar membuka kasus untuk tuduhan korupsi baru terhadap pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dan mantan pejabat lain dari pemerintahannya, demikian dilaporkan Global New Light of Myanmar yang dikelola pemerintah mengatakan pada Kamis (10/6/2021).

Kasus-kasus tersebut adalah yang terbaru dari serangkaian kasus yang diajukan terhadap pemimpin terpilih Suu Kyi, yang digulingkan oleh tentara pada 1 Februari dalam kudeta yang telah menjerumuskan negara Asia Tenggara itu ke dalam kekacauan.

BACA JUGA: Misteri Kematian Pejabat Myanmar dari Partai Suu Kyi, Ditangkap Lalu Ditemukan Tewas

Surat kabar pemerintah mengutip Komisi Anti-Korupsi yang mengatakan tuduhan terkait penyalahgunaan tanah untuk yayasan amal Daw Khin Kyi, yang dipimpin Suu Kyi, serta tuduhan sebelumnya menerima uang dan emas.

Dikatakan berkas kasus telah dibuka terhadap Suu Kyi dan beberapa pejabat lainnya dari Ibu Kota Naypyidaw di kantor polisi pada Rabu (9/6/2021).

"Dia dinyatakan bersalah melakukan korupsi menggunakan pangkatnya. Jadi dia didakwa berdasarkan UU Antikorupsi pasal 55," kata surat kabar itu sebagaimana dilansir Reuters. Undang-undang itu memberikan hukuman penjara hingga 15 tahun bagi mereka yang terbukti bersalah.

Reuters tidak segera dapat menghubungi pengacara Suu Kyi untuk memberikan komentar.

BACA JUGA: Junta Myanmar Akan Bubarkan Partai Aung San Suu Kyi

Kasus-kasus yang telah dihadapi Suu Kyi berkisar dari kepemilikan ilegal radio walkie-talkie hingga melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi. Para pendukungnya mengatakan kasus-kasus itu bermotif politik.

Tentara menggulingkan Suu Kyi dengan mengatakan partainya telah curang dalam pemilihan November, sebuah tuduhan yang ditolak oleh komisi pemilihan sebelumnya dan pemantau internasional.

Sejak itu, tentara gagal membangun kendali. Ia menghadapi protes setiap hari, pemogokan yang melumpuhkan ekonomi oleh penentang junta, serangkaian pembunuhan dan serangan bom dan kebangkitan konflik di perbatasan Myanmar.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini