Valentinne juga membantu mengasuh anak. "Setelah jam makan siang, ibu saya kembali bekerja dan saya tinggal di rumah bersama adik-adik saya. Saya ingin sekali pergi ke taman bermain bersama mereka, tetapi saya tidak bisa karena pandemi. Salah satu hari paling bahagia bagi saya ialah ketika kami pergi ke kolam renang umum - saya berharap bisa kembali ke sana suatu hari nanti dan belajar cara berenang."
"Menjadi buruh anak juga berdampak pada perkembangan emosional dan kesejahteraan anak, dan mengancam kesehatan fisik dan jiwa anak," kata Cappa.
Di Bangladesh, Imran juga sudah berhenti sekolah sama sekali, meskipun sebelum lockdown dia sempat bisa menghadiri kegiatan belajar selama beberapa jam sehari.
Saat pandemi mencapai puncaknya, keluarga Imran harus meninggalkan ibu kota dan pindah sementara ke desa mereka. Imran tetap di Dhaka untuk terus bekerja di toko daur ulang kertas dan tinggal bersama pemilik toko.
"Lalu toko itu juga tutup karena lockdown, saya mulai pergi ke Azad bhai [Pusat Perlindungan Anak yang disokong oleh Unicef]. Mereka memberi saya makan tiga kali sehari dan kadang-kadang saya juga tidur di sana," kata Imran.
Tempat penampungan itu juga memberinya layanan kesehatan, alat-alat kebersihan, pelatihan keterampilan, konseling, dan hiburan, namun setelah dua bulan tinggal di Dhaka sendirian ia berkata ia "mulai merasa sangat sedih".