Buruh Anak Meningkat Akibat Pandemi Covid-19, Ini Cerita Mereka

Agregasi BBC Indonesia, · Sabtu 12 Juni 2021 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 12 18 2424153 buruh-anak-meningkat-akibat-pandemi-covid-19-ini-cerita-mereka-77rLNPrAKB.jpg Foto: UNICEF.

MESKIPUN usianya baru 11 tahun, Imran sekarang bekerja penuh waktu membuat kantung kertas di sebuah toko daur ulang kertas di Dhaka, Bangladesh.

"Ketika lockdown dimulai, saya harus mulai bekerja lagi untuk menafkahi orang tua dan adik-adik saya," kata Imran.

Di belahan dunia lain, di Bolivia, situasinya tidak jauh berbeda: "Saya bangun jam 4 pagi, dan jam 5 pagi saya sudah di jalan bersama ibu saya, bekerja di sampingnya sampai tengah hari," kata Valentinne, 9 tahun.

BACA JUGA: ILO & UNICEF: 160 Juta Anak di Dunia Dipaksa Bekerja

"Saya berjualan sapu tangan karena pagi-pagi buta di La Paz dingin dan semua orang membutuhkannya."

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir sudah ada kemajuan dalam upaya mengurangi pekerja anak di seluruh dunia, dampak pandemi telah mengakibatkan kemunduran serius.

Di tempat para orang tua kehilangan pekerjaan mereka dan sekolah ditutup, anak-anak harus keluar untuk mendapatkan penghasilan.

Jumlah pekerja anak bertambah untuk pertama kalinya dalam 20 tahun

Valentinne berhenti belajar pada Maret 2020, ketika sekolahnya tutup akibat lockdown.

Sekarang, dia bekerja dari subuh bersama ibunya, Nancy (23 tahun), yang menyemir sepatu.

"Ibu mendaftarkan saya di sekolah, tetapi saya tidak bisa masuk kelas sehari saja. Saya bahkan belum membeli peralatan sekolah. Buku catatan yang saya punya dari tahun lalu, itu pun sebagian besar halamannya kosong. Namun yang paling saya rindukan ialah kawan-kawan saya dan waktu bermain."

BACA JUGA: Miris, Jumlah Anak Migran di Perbatasan Meksiko-AS Naik 9 Kali Lipat

Jumlah anak yang bekerja di seluruh dunia bertambah untuk pertama kalinya dalam dua dekade, mencapai 160 juta, menurut laporan yang diterbitkan bersama oleh Unicef dan Organisasi Buruh Dunia (ILO).

Dalam empat tahun terakhir saja, total 8,4 juta anak telah mulai bekerja. Salah satunya diakibatkan pandemi Covid-19 yang menyerang kesehatan dan ekonomi orang tua. Fakta tersebut membatalkan dua puluh tahun kemajuan di lini ini, kata Unicef dan ILO.

Valentinne adalah salah satu anak yang terpaksa bekerja akibat Pandemi Covid-19. (Foto: UNICEF)

Menurut laporan tersebut, jumlah anak berusia lima sampai 11 tahun yang bekerja meningkat secara signifikan. Anak-anak di rentang usia tersebut kini mencakup lebih dari setengah total pekerja anak di dunia.

Jumlah anak berusia lima sampai 17 tahun yang melakukan pekerjaan berbahaya (didefinisikan sebagai pekerjaan yang dapat mencederai kesehatan dan keselamatan fisik atau mental mereka) melonjak dari 6,5 juta hingga 79 juta sejak 2016.

Menjadi buruh anak memengaruhi kehidupanmu... dan generasi masa depan

"Bekerja memengaruhi kehidupan si anak, tetapi efeknya juga dirasakan antar generasi. Anak-anak mungkin tetap bersekolah, tetapi ketika mereka tidak dapat belajar dan berkembang, itu membatasi kesempatan mereka di masa depan, dan melanggengkan lingkaran kemiskinan," kata Claudia Cappa, penasihat senior di Unicef (dan salah satu penulis laporan tersebut) kepada BBC.

"Saya tahu belajar itu penting," kata Valentinne. "Misalnya, cara melakukan penambahan dan pengurangan. Ketika seseorang membeli sapu tangan saya, saya tahu jika bayarannya cukup atau saya perlu memberi kembalian."

Namun ibu Valentinne mengatakan dia tak bisa terus membiayai pendidikan virtual putrinya: "Ponsel saya lawas, dan paket data sangat mahal. Saya tidak bisa membelinya."

Valentinne juga membantu mengasuh anak. "Setelah jam makan siang, ibu saya kembali bekerja dan saya tinggal di rumah bersama adik-adik saya. Saya ingin sekali pergi ke taman bermain bersama mereka, tetapi saya tidak bisa karena pandemi. Salah satu hari paling bahagia bagi saya ialah ketika kami pergi ke kolam renang umum - saya berharap bisa kembali ke sana suatu hari nanti dan belajar cara berenang."

"Menjadi buruh anak juga berdampak pada perkembangan emosional dan kesejahteraan anak, dan mengancam kesehatan fisik dan jiwa anak," kata Cappa.

Di Bangladesh, Imran juga sudah berhenti sekolah sama sekali, meskipun sebelum lockdown dia sempat bisa menghadiri kegiatan belajar selama beberapa jam sehari.

Saat pandemi mencapai puncaknya, keluarga Imran harus meninggalkan ibu kota dan pindah sementara ke desa mereka. Imran tetap di Dhaka untuk terus bekerja di toko daur ulang kertas dan tinggal bersama pemilik toko.

"Lalu toko itu juga tutup karena lockdown, saya mulai pergi ke Azad bhai [Pusat Perlindungan Anak yang disokong oleh Unicef]. Mereka memberi saya makan tiga kali sehari dan kadang-kadang saya juga tidur di sana," kata Imran.

Tempat penampungan itu juga memberinya layanan kesehatan, alat-alat kebersihan, pelatihan keterampilan, konseling, dan hiburan, namun setelah dua bulan tinggal di Dhaka sendirian ia berkata ia "mulai merasa sangat sedih".

Setelah lockdown diangkat, keluarga Imran bersatu kembali dan tinggal di rumah satu kamar di tengah daerah kumuh padat penduduk di ibu kota. Namun Imran tidak kembali bersekolah.

"Sekarang saya bangun tidur sekitar jam 7 pagi, cuci muka, makan, dan bekerja di toko. Saya mulai bekerja jam 9 pagi dan pulang jam 10 malam. Saya tidak suka bekerja, meskipun semua orang di toko memperlakukan saya dengan baik. Tidak ada anak-anak seusia saya di toko."

'Ini mengubah hidup saya'

"Kita kewalahan dalam upaya melawan perburuhan anak, dan tahun lalu tidak membuat upaya itu jadi lebih mudah," kata Direktur Eksekutif Unicef Henrietta Fore.

Namun potensi dampak pandemi dapat dicegah jika pemerintah menerapkan kebijakan yang tepat, kata laporan ILO/Unicef itu.

Tunjangan anak, peningkatan investasi dalam pendidikan, mengirim anak-anak kembali ke sekolah, dan mendorong pekerjaan yang lebih baik bagi orang dewasa (sehingga keluarga tidak harus mengandalkan anak-anak untuk menambah pendapatan mereka) dapat memberi dampak dan membantu membalikkan tren tersebut.

Di sejumlah tempat, intervensi yang dilakukan secara lokal mulai membuahkan hasil yang baik bagi beberapa anak.

Bagaimanapun, jika kebijakan lebih lanjut tidak diambil, diperkirakan bahwa hampir 50 juta anak lagi akan menjadi buruh anak pada akhir 2022, menurut laporan Unicef-ILO.

"Efek negatif lainnya dari perburuhan anak ialah risiko cedera dan masalah kesehatan jangka panjang, yang kemudian melanggengkan siklus kemiskinan," kata Cappa.

Muhammad, seorang anak berusia 9 tahun di Amman, Yordania mengalami masalah ini.

"Sejak usia sembilan tahun, saya bekerja memungut sampah di jalan dan menjualnya untuk didaur ulang," Muhammad, remaja 12 tahun dari Amman, di Yordania.

"Pada suatu hari, saya memikul satu paket besar, tapi itu terlalu berat dan saya jatuh tersungkur. Jari saya patah dan kedua kaki saya terluka."

Sebuah lembaga amal setempat, yang disponsori oleh Unicef, melihat Mohammad bekerja di jalan dan menawarkan bantuan.

"Program ini telah mengubah hidup saya. Mereka membawa saya ke dokter dan jari saya sudah sembuh," katanya.

"Saya sangat senang sekarang karena saya bisa belajar. Saya datang ke sini tiga hari seminggu dan sangat menikmati belajar keterampilan di komputer. Tetapi satu hal terbaiknya? Saya bisa bermain dengan anak-anak lain."

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini