Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pengakuan Keturunan Orang Kalang Tentang Misteri 'Manusia Berekor'

Doddy Handoko , Jurnalis-Rabu, 16 Juni 2021 |06:35 WIB
Pengakuan Keturunan Orang Kalang Tentang Misteri 'Manusia Berekor'
Keturunan Wong Kalang. (Foto: Dok Okezone.com)
A
A
A

DALAM buku "Orang-orang Golongan Kalang (1971)" disebutkan bahwa orang kalang (Wong Kalang) sebagai kelompok yang tersisih secara sosial. Orang-orang Kalang dipaksa tinggal di daerah pengasingan, seperti pantai yang berpaya-paya, tepi sungai, lereng gunung-gunung, dan tanah tandus.

Sebagian hidup mengembara di hutan-hutan. Lingkungan yang keras menempa mereka menjadi pekerja keras.

Siapa orang Kalang? Jika ditanyakan soal itu kepada orang Kalang, muncul uraian kisah yang berpangkal pada mitos.

Konon, seorang putri mengawini seekor anjing lantaran termakan sumpahnya sendiri. Cerita semacam itulah yang memunculkan mitos, orang Kalang memiliki ekor.

Ternyata tentang "ekor" itu bisa dibuktikan secara ilmiah. Seorang keturunan orang kalang membuka rahasia itu. 

Baca juga: Kisah Wong Kalang"Manusia Berekor" dan Ritus Bakar Boneka Kayu Orang Meninggal

Derry A, warga Ambarawa menceritakan, dirinya masih keturunan orang kalang generasi ke-5.

"Saya tidak tahu secara teoritis tentang kalang. Cuma di keluarga kata eyang, ada turunan kalang dari Purworejo. Ada beberapa keturunan yang memang punya ‘ekor’. Tapi bukan ekor seperti binatang, tapi ada sedikit lebihan tonjolan di pangkal tulang punggung atau tulang di ekor. Paling cuma sekitar 1-2 cm dan tidak semua dari keluarga kami mempunyai kelainan genetis itu," paparnya. 

Sampai sekarang yang masih punya "ekor", adalah tantenya bulik dengan keponakan, dua-duanya perempuan.

"Kelainan itu tentu mengganggu karena mereka jadi tidak betah duduk berlama-lama soalnya sakit. Bahkan keponakan saya sampai sekarang usia 26 tahun sudah mempunyai anak tidak bisa naik sepeda karena memang dilarang, takut kalau jatuh terduduk bakal terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan," ujarnya.

Baca juga: Peristiwa 16 Juni: Perang Belasting, Rakyat Sumbar Angkat Senjata Lawan Belanda

Dalam soal ritual, keluarganya sudah tidak melakukan lagi. Keluarganya sudah terputus dengan budaya kalang. Mereka telah hidup berbaur dengan masyarakat.

"Ya mungkin karena eyang buyut pindah Jogja dan kemudian anak cucu sudah menikah dengan orang non kalang," ujarnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement