Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Covid di Indonesia: Lonjakan Kasus, Hoaks dan Apatisme Masyarakat Belum Percaya 100%

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 17 Juni 2021 |09:46 WIB
Covid di Indonesia: Lonjakan Kasus, Hoaks dan Apatisme Masyarakat Belum Percaya 100%
Warga menangis saat salah satu anggota keluarganya dimakamkan setelah meninggal akibat Covid-19, di Bandung. (Foto: Antara)
A
A
A

SEBAGIAN kecil masyarakat Indonesia menolak menaati protokol kesehatan karena terpapar berita menyesatkan, namun sebagian lainnya bersikap apatis lantaran tidak mendapat keteladanan dari pejabat pemerintah terkait penanganan Covid-19.

Hal itu disampaikan Windhu Purnomo selaku ahli penyakit menular dari Universitas Airlangga, Surabaya. Menurutnya, sebagian masyarakat mempercayai informasi Covid-19 yang disampaikan pemerintah jika narasi para pejabat publik tidak saling bertentangan.

Dia mencontohkan kebijakan pemerintah tentang larangan mudik Lebaran, namun di sisi tidak melarang kunjungan ke lokasi wisata.

Baca juga: Tinjau Vaksinasi di Stasiun Bogor, Jokowi Harap Penumpang KRL Terlindungi dari Covid-19

"Itu memperburuk persepsi masyarakat, 'loh berarti tidak ada apa-apa, wong piknik boleh kok'," ungkap Windhu, memberikan contoh, kepada BBC News Indonesia, Rabu (16/06).

Sementara, pengamat kebijakan kesehatan dari Universitas Indonesia, Hermawan Saputra, menganggap selain kejenuhan, apatisme itu dilatari pula aspek keteladanan.

"Masyarakat tidak bisa kita salahkan. Kejenuhan pasti ada, tetapi keteladanan kebijakan, penegakan hukum itu juga dilihat sebagai faktor pengabaian dan apatisme, karena sudah 15 bulan berlalu," ujarnya, Rabu malam.

Di sisi lain, Windhu dan Hermawan tidak memungkiri bahwa ada sebagian kecil masyarakat di Indonesia yang sejak awal tidak memahami dan termakan oleh hoaks.

Baca juga: 60% Ibu Hamil di RSKIA Bandung Positif, Menko PMK: Covid-19 Sudah Tak Pandang Bulu!

Sampai Rabu (16/06) malam, permintaan wawancara BBC News Indonesia kepada Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, belum mendapat respons.

Foto: Antara

Namun sebelumnya, seorang pejabat Satuan Tugas Penanganan Covid-19, akhir tahun lalu, pernah menyatakan masih ada sekitar 17% masyarakat Indonesia yang tidak percaya adanya wabah Covid-19.

Karena itulah, mereka membutuhkan kerja sama semua pihak, termasuk tokoh masyarakat, agar bekerja lebih keras lagi, terutama untuk memberikan literasi dan edukasi kepada masyarakat.

Pemerintah juga melibatkan tokoh masyarakat, termasuk ulama, untuk mengampanyekan supaya masyarakat menaati protokol kesehatan.

Setelah periode liburan lebaran, ada lonjakan kasus covid-19 di Indonesia, yang berkisar dari 100% hingga 2.000% di sejumlah daerah.

Pengamat kesehatan kemudian mengusulkan agar pemerintah menerapkan pembatasan lebih ketat secara lebih luas, namun pemerintah masih memprioritaskan pembatasan dalam skala mikro.

Tak Sepenuhnya Percaya Covid-19

Ahmad Zaini, berusia 55 tahun warga Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, pulau Madura, mengaku tidak sepenuhnya percaya adanya virus bernama Covid-19 yang sekarang menjadi pandemi.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement