Siapakah Ebrahim Raisi, Tokoh Garis Keras yang Akan Menjadi Presiden Baru Iran

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 21 Juni 2021 12:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 21 18 2428369 siapakah-ebrahim-raisi-tokoh-garis-keras-yang-akan-menjadi-presiden-baru-iran-5pZEbdX8IR.JPG Calon Presiden Iran Ebrahim Raisi. (Foto: Reuters)

Kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa Raisi terlibat dalam sebuah 'komisi kematian' setelah berakhirnya Perang Irak-Iran pada 1988. Komisi itu diyakini bertanggung jawab atas penghilangan dan eksekusi rahasia ribuan tahanan politik, demikian diwartakan Al Jazeera.

Ini membuat Raisi pada 2019 dijatuhi sanksi Amerika Serikat (AS) atas dugaannya dalam eksekusi massal yang diawasi komisi tersebut. Raisi akan menjadi Presiden Iran pertama yang menjadi sasaran sanksi AS.

Karier Raisi di kepemimpinan Iran terus menanjak setelah Ayatollah Khamenei menjadi pemimpin tertinggi negara pada 1989.

Dia kemudian memegang peran sebagai jaksa Teheran, kemudian mengepalai Organisasi Inspeksi Umum, dan kemudian menjabat sebagai wakil ketua hakim selama satu dekade hingga 2014, saat protes Gerakan Hijau pro-demokrasi 2009 berlangsung. 

Pada 2006, saat menjabat sebagai wakil ketua pengadilan, dia untuk pertama kalinya terpilih dari Khorasan Selatan ke Majelis Ahli, sebuah badan yang bertugas memilih pengganti pemimpin tertinggi jika dia meninggal. Dia masih memegang peran itu.

Raisi dipromosikan menjadi jaksa agung Iran pada 2014 dan tetap di posisi itu hingga 2016, ketika dia kembali menaiki tangga karier di luar sistem peradilan. Dia ditunjuk oleh pemimpin tertinggi sebagai penjaga Astan-e Quds Razavi, bonyad besar, atau kepercayaan amal, yang mengelola tempat suci imam besar Syiah, Imam Ali bin Musa Al Ridha atau Imam Reza dan semua organisasi afiliasinya.

Dalam posisi itu, Raisi menguasai aset bernilai miliaran dolar dan menjalin hubungan dengan elit agama dan bisnis Mashhad, kota terbesar kedua di Iran.

Pada 2017, Raisi mencalonkan diri sebagai presiden untuk pertama kalinya dan menjadi kandidat utama melawan Rouhani, seorang moderat yang memperjuangkan keterlibatan dengan Barat dan kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan kekuatan dunia yang mencabut sanksi multilateral sebagai imbalan atas pembatasan program nuklir negara itu.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini