Nestapa Mukmin, Pelaut Asal Pangkal Pinang yang Tinggal di Gubuk Reyot Tiga Kali Roboh

Haryanto, iNews · Rabu 23 Juni 2021 06:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 22 340 2429352 nestapa-mukmin-pelaut-asal-pangkal-pinang-yang-tinggal-di-gubuk-reyot-tiga-kali-roboh-1dXR3EoNz7.jpg Kondisi rumah nelayan asal Pangkal Pinang Mukmin (Foto: Haryanto)

PANGKALPINANG - Pelaut yang tangguh dan andal tak dilahirkan dari laut yang tenang. Pelaut yang andal akan ditentukan sejauh mana dia mampu mengatasi ombak dan badai yang siap menerjang di tengah laut saat berlayar, demikian pribahasa yang dikenal masyarakat.

Ketangguhan dan keandalan itu juga tampak jelas di raut wajah Mukmin. Pria yang berusia 65 tahun itu merupakan seorang pelaut asal Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.

Berpuluh tahun sudah hidupnya dihabiskan dengan bekerja sebagai nelayan. Tak jarang, Mukmin juga harus menaklukkan badai di tengah lautan saat mencari ikan.

Meski begitu, jerih payahnya sebagai nelayan tak berhasil membawa kesejahteraan dalam hidupnya. Kini, di usianya yang sudah memasuki usia senja dirinya belum mampu memiliki rumah layak huni.

Mukmin bisa mengatasi badai saat di lautan. Tapi, rumah yang ditinggalinya bersama istri dan empat orang anaknya itu sudah tiga kali roboh saat dihantam angin kencang.

Baca juga: Kisah Pelaut Belanda Bertolak dari Jakarta untuk Mencari Benua yang Hilang

"Saya baru saja pulang melaut, lihat rumah sudah roboh. Tidak tahu kenapa, mungkin karena kayu-kayunya sudah buruk. Tiangnya kan dari kayu sedangkan air di sini asin, kemungkinannya tiangnya sudah rapuh hingga roboh," kata Mukmin saat ditemui MNC Portal Indonesia di kediamannya, Selasa (22/6/2021).

Mukmin menceritakan dirinya sudah 15 tahun tinggal di rumah yang terletak di Jalan Tenggiri Nomor 13, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang itu. Bersama sang istri, Mardullah (46), dirinya mengarungi bahtera rumah tangga.

Baca juga: Berkat Potongan Sampah, Seorang Pria Selamat Terapung 14 Jam di Samudera Pasifik

Berbagai kisah manis dan pahit sudah dilalui pasutri yang memiliki empat anak yang masih kini masih duduk di bangku sekolah.

Mukmin mengatakan bahwa setelah tiga kali roboh, dirinya masih membiarkan kayu-kayu yang menjadi penyanggah gubuknya dari panas dan hujan lantaran belum memiliki biaya.

Dia mengatakan bahwa peristiwa terakhir rumahnya roboh berlangsung pada dua pekan lalu saat dirinya melaut. Beruntung, tak ada keluarganya yang menjadi korban.

"Dana untuk memperbaikinya itu nggak ada, maklumlah keadaan nelayan. Kadang-kadang kalau nasib bagus ada lebih untuk makan dan nyekolahkan anak," ujarnya.

Rumah keluarga Mukmin berdampingan langsung dengan daerah aliaran sungai. Air payau juga turut membuat kayu mudah lapuk sehingga tak kuat menjadi tiang penyanggah.

Tempat tinggal keluarga ini jauh dari kata layak. Bagian dapur langsung beratapkan langit. Di sisi lain dinding papan puing-puing dari reruntuhan sedikit menempel di dapur dengan lantai papan yang telah keropos dimakan usia.

Baca juga: RI Penyumbang Pelaut Ketiga Terbesar di Dunia

Di bagian tengah rumah dapat dikatakan jauh lebih baik. Sebagian atap masih mampu menahan dari terik matahari maupun hujan. Sementara itu, di bagian atap lainnya sudah terlihat bolong, sinar mentari tampak menembus langsung beberapa sudut di ruang tengah rumah Mukmin.

Tak ada keluhan yang terlontar dari mulut pelaut andal itu. Di tengah keterbatasannya, Mukmin tak pernah meminta-minta. Mukmin dan keluarga terpaksa tetap tinggal di gubuk reyot karena tak ada pilihan lain.

Mukmin dan keluarga juga tak pernah tersentuh bantuan dari pemerintah setempat. Bahkan, kata dia, untuk seng atap rumah dirinya terpaksa mengkais bekas milik temannya.

Baca juga: Laksamana Zheng He, Penemu Amerika dan Penyiar Islam di Indonesia

"Alat rumah seperti baju dan lainnya diletakan di bagian tengah rumah. Tidur itu ala kadarnya, kalau hujan kandang-kadang kehujanan, karena kan sengnya itu bekas juga dapat dikasih kawan," kata Mukmin.

Selain melaut, Mukmin juga biasa menjadi kuli bangunan untuk mendapatkan uang tambahan. Sedangkan istrinya membantu sebagai pembantu rumah tangga yang tak jauh dari kediamannya.

"Sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah. Ada dari warga di sekitar sini, ada yang kasih batu bata, semen dan atap. Selebihnya saya dapat dari sisa-sisa bangunan yang sudah roboh di tempat lain. Hingga ada berdiri batu - bata dibagian depan rumah seperti ini," katanya.

Empat anak Mukmin tercatat masih duduk di bangku sekolah mulai tingkat SD sampai SMP. Mereka juga dibayang-bayangi putus sekolah lantaran tidak memiliki biaya pendidikan.

Kehidupan Mukmin merupakan potret dari profesi nelayan yang saat ini masih banyak hidup dalam kemiskinan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini