Ketika Pesawat Tempur Indonesia dan Amerika Saling Serang

Banda Haruddin Tanjung, Okezone · Rabu 23 Juni 2021 15:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 23 340 2429771 ketika-pesawat-indonesia-dan-amerika-saling-serang-ysJYAGnb27.jpg Foto: Istimewa

PEKANBARU - Penerbang pesawat tempur F-16 TNI AU dan penerbang F-16 United State Pacific Air Force (USPACAF) melaksanakan latihan taktik pertempuran udara. Latihan pertempuran ini adalah dua pesawat melawan dua pesawat, atau Air Combat Tactic (ACT) 2V2.

Taktik pertempuran udara ini merupakan tahapan pada latihan bersama Cope West 2021 di Lanud Roesmin Nurjadin di Riau. Pada latihan ini dilakukan manuver replikasi dengan semi aktif missile, actif missile maupun infrared missile. ACT 2V2 mensimulasikan penggunaan sejumlah rudal udara ke udara (Air to air missile).

Pada manuver ACT 2V2 ini dilakukan dengan dua skenario latihan, yaitu secara visual atau visual identification (VID) maupun menggunakan sensor yang ada pada pesawat atau sensor identification. Teknik ACT 2V2 ini diperankan oleh 2 pesawat TNI AU dan 2 pesawat USPACAF secara bergantian.

Baca juga: Aksi Marinir Kejar Separatis dalam Foto

Direktur Latihan Cope West 2021 dari TNI AU, Kolonel Pnb Jajang Setiawan menyampaikan,, ACT adalah taktik mengalahkan musuh dari jarak jauh, termasuk mempelajari kelemahan dan kelebihan rudal yang digunakan musuh, agar bisa mengantisipasi setiap ancaman rudal musuh.

"ACT adalah mainly BVR, mengalahkan musuh dari jarak jauh. Disimulasikan potensial musuh menggunakan jenis rudal tertentu, baik jenis semi aktif ataupun rudal aktif, sehingga diperlukan taktik dan strategi menghindari serangan rudal tersebut, karena setiap missile memiliki kelemahan dan kelebihan," ujar Kolonel Jajang Setiawan yang keseharian menjabat sebagai Danwing 6 Lanud Roesmin Nurjadin Rabu (23/6/2021).

Baca juga: TNI AL Latihan Perang Bareng Perancis di Selat Sunda

Latihan secara visual identification adalah melakukan pertempuran udara jarak dekat. Sedangkan sensor identification merupakan pertempuran udara dengan jarak relatif jauh, menggunakan interegator yang mampu menghancurkan musuh dengan instrumen yang ada pada pesawat, tanpa harus melihat secara visual.

Simulasi pertempuran di langit Pekanbaru ini dilaksanakan setelah kedua angkatan udara melaksanakan Basic Fighter Manuver (BFM) dan Air Combat Manuver (ACT) 2V1+1 pada hari sebelumnya.

Ditambahkannya, dengan memahami kelebihan maupun kelemahan jenis rudal tersebut, maka setiap penerbang mampu mengantisipasinya."Taktik dan strategi inilah yang dipelajari secara bersama, baik penerbang TNI AU maupun USPACAF," ungkap Kolonel Jajang.

"Pada latihan ACT 2V2 ini, dilaksanakan dengan 16 sorties penerbangan, 8 TNI AU dan 8 USPACAF," imbuhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini