Korut Eksekusi Mati 10 Orang yang Diam-Diam Gunakan Ponsel untuk Sambungan ke Luar Negeri

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 25 Juni 2021 11:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 25 18 2430777 korut-eksekusi-mati-10-orang-yang-diam-diam-gunakan-ponsel-untuk-sambungan-ke-luar-negeri-TkqmdUKXI0.jpg Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong-un (Foto: Reuters)

PYONGYANG - Korea Utara (Korut) secara terbuka mengeksekusi mati setidaknya 10 orang yang tertangkap menggunakan jaringan telepon seluler (ponsel) China untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

Sepuluh orang ini, lima orang di kabupaten Taehongdan County di Ryanggang dan lima orang di provinsi Hamgyong Utara - dieksekusi di depan umum.

Diperkirakan sekitar 20 orang lainnya yang diadili di depan umum terhindar dari hukuman mati.

Laporan itu mengatakan tindakan keras itu diperkirakan akan berlanjut selama berbulan-bulan, karena tembok beton tinggi dan kabel tegangan tinggi dibangun dalam upaya untuk membentengi perbatasan.

Pemimpin Tertinggi Korut Diktator Kim Jong-un diketahui melarang warganya mengakses jaringan seluler dari negara tetangga China untuk menghentikan mereka berbicara dengan pembelot dan mengakses informasi luar di luar kendali rezimnya.

(Baca juga: Pertemuan Bilateral RI - Korsel, Tandatangani 2 Kesepakatan Baru)

Sekitar 150 warga Korut ditangkap setelah partai yang berkuasa di negara itu dan polisi rahasia meluncurkan tindakan keras baru yang melibatkan pengawasan rahasia pada Maret lalu. 150 orang ini diperkirakan ditangkap di empat provinsi yang berbatasan dengan China hanya dalam waktu tiga minggu.

Sebuah sumber di Korut mengatakan penggerebekan terus berlanjut dan beberapa pelaku dieksekusi di depan umum sebagai bentuk pencegahan yang mengerikan.

Klaim tersebut dilaporkan oleh Daily NK Japan, yang mengutip sumber di provinsi Ryanggang, yang berbatasan dengan China.

Penangkapan terjadi selama investigasi penyelundupan orang dan barang melintasi perbatasan, perantara pengiriman uang yang mengatur panggilan dan pengiriman uang, dan mereka yang memiliki hubungan dengan pembelot di Korea Selatan (Korsel).

(Baca juga: 751 Makam Ditemukan di Sekolah Asrama)

Warga Korut mengandalkan ponsel selundupan dan kartu SIM untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan teman, serta mendapatkan bantuan dari dunia luar. Larangan empat tahun pada ponsel dicabut pada 2008, dan jaringan domestik tetap sangat dibatasi.

Sumber lain mengatakan kepada situs web bahwa jumlah orang yang ditahan telah "melonjak" sejak akhir Mei lalu, ketika negara itu berjuang dengan kekurangan pangan yang memburuk dan melonjaknya harga.

Pejabat keamanan negara bertugas mendeteksi sinyal telepon, perangkat penyadapan, dan menangkap pengguna jaringan telepon seluler ilegal.

Banyak yang ditangkap karena kejahatan itu dikirim ke pusat-pusat indoktrinasi politik yang penuh sesak sebagai hukuman.

"Pusat penahanan penuh dengan orang-orang seperti kandang kelinci. Orang-orang duduk di sebelah toilet,” terang seorang sumber.

"Kunjungan keluarga ditolak dan para tahanan kehilangan harapan,” lanjutnya.

Pada April lalu, Korut secara terbuka mengeksekusi seorang pria di Wonsan yang secara ilegal menjual CD dan USB yang berisi film, acara TV, dan video musik Korsel. Daily NK melaporkan eksekusi dilakukan di depan sekitar 500 orang.

Sekitar waktu yang sama, diklaim seorang pejabat pendidikan dieksekusi karena mengeluh tentang beban kerjanya dan gagal melakukan panggilan video yang cukup dengan staf.

Selain itu, sejumlah pelanggar lockdown Covid-19 juga telah dieksekusi sejak pandemi dimulai tahun lalu.

Daily NK melaporkan pada 2014, Korut mengeksekusi mati seorang pria berusia 49 tahun yang tertangkap melakukan panggilan telepon ke anggota keluarga di Korsel dari lokasi dekat perbatasan dengan China.

Pria ini ditangkap oleh agen menggunakan detektor sinyal, dan seluruh keluarganya dipenjara setelah dia mengaku diam-diam menerima uang dari keluarga di Korsel dan membantu serta bersekongkol untuk pembelotan.

“Pada awal tahun ini mereka mengubah KUHP. Kemudian, di Hyesan seseorang dieksekusi sebagai contoh bagi yang lainnya,” ungkap seorang sumber pada saat itu.

"Dia telah menelepon keluarganya di Chosun Selatan. Dia mungkin tidak punya waktu untuk membongkar telepon dan menyembunyikannya sebelum agen SSD (Departemen Keamanan Negara) datang ke rumahnya,” ujarnya.

"Siapa pun yang menggunakan ponsel untuk menelepon 'ke arah sana' atau 'ke arah lain' [Korea Selatan atau China] takut,” lanjutnya.

Beberapa laporan tentang eksekusi telah muncul dalam beberapa pekan terakhir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini