Taliban: Semua Pasukan Asing Harus Angkat Kaki pada 11 September

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 06 Juli 2021 05:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 06 18 2436043 taliban-semua-pasukan-asing-harus-angkat-kaki-pada-11-september-6HYM6pcFTw.jpg Taliban ingin semua pasukan asing keluar dari Afghanistan (Foto: EPA)

AFGHANISTAN - Semua tentara asing yang masih berada di Afghanistan setelah tenggat penarikan pasukan NATO pada September mendatang akan berisiko dianggap sebagai penjajah.

Hal ini diungkapkan kelompok Taliban kepada BBC. Pernyataan itu dilontarkan di tengah berbagai laporan bahwa 1000 serdadu, sebagian besar asal Amerika Serikat (AS), akan tetap berada di Afghanistan untuk melindungi misi diplomatik dan bandara internasional Kabul.

Misi militer NATO yang telah berlangsung selama 20 tahun di Afghanistan belum juga selesai.

Namun kekerasan di negara itu terus meningkat, dengan semakin banyak wilayah jatuh ke tangan Taliban.

Seiring tentara Afghanistan bersiap untuk menjadi satu-satunya penjaga keamanan, timbul kekhawatiran tentang masa depan Kabul.

(Baca juga: Covid-19 Belum Usai, Biden Kembali Imbau Rakyat AS untuk Divaksin)

Juru bicara Taliban Suhail Syahin mengatakan bahwa menguasai Kabul secara militer "bukan kebijakan Taliban".

Namun saat berbicara kepada BBC dari markas kelompok militan itu di Qatar, ia berkata tidak boleh ada tentara asing - termasuk kontraktor militer - yang masih berada di kota itu setelah penarikan selesai.

"Jika mereka meninggalkan pasukan mereka yang merupakan pelanggaran terhadap perjanjian Doha, maka dalam situasi itu pimpinan kami akan memutuskan tindakan selanjutnya," kata Shahin kepada BBC.

(Baca juga: Serbu Kota, Tentara Myanmar Tewaskan Setidaknya 25 Orang)

"Kami akan bereaksi, dan keputusan final ada di tangan pimpinan kami," ujarnya.

Diplomat, organisasi non pemerintah (NGO), dan warga asing lainnya tidak akan disasar oleh Taliban, ia bersikeras, dan mereka tidak membutuhkan perlindungan terus-terusan dari tentara.

"Kami melawan pasukan militer asing, bukan diplomat, NGO, dan pekerja; berfungsinya NGO serta kedutaan adalah hal yang dibutuhkan rakyat kami. Kami tidak akan menjadi ancaman bagi mereka," ujarnya.

Shahin menjabarkan penarikan pasukan dari Bagram Airfield - bekas markas militer terbesar di Afghanistan - sebagai "peristiwa bersejarah".

Syahin membantah tuduhan bahwa Taliban berperan dalam peningkatan kekerasan baru-baru ini.

Ia berkukuh bahwa banyak distrik jatuh ke tangan Taliban melalui mediasi setelah para serdadu Afghan menolak untuk bertempur.

Berdasarkan kesepakatan dengan Taliban, AS dan sekutunya di Nato sepakat untuk menarik semua tentara mereka. Sebagai gantinya, kelompok militan itu tidak boleh membiarkan al-Qaeda atau kelompok ekstremis lainnya beroperasi di wilayah yang mereka kuasai.

Presiden AS Joe Biden menetapkan tenggat pada 11 September - menandai 20 tahun serangan terhadap AS, yang disebut serangan 9/11 (nine-eleven) - untuk penarikan pasukan Amerika secara penuh, namun berbagai laporan mengatakan bahwa penarikan itu akan selesai dalam beberapa hari ke depan.

Seorang anggota parlemen Afghanistan yang berbicara atas nama pemerintah mengatakan penarikan pasukan dilakukan secara tidak bertanggung jawab.

Razwan Murad berkata kepada BBC bahwa pemerintah siap untuk perundingan dan gencatan senjata, dan Taliban kini harus membuktikan komitmen mereka pada perdamaian.

Pada Minggu (4/7) kemarin, Taliban menguasai satu wilayah lagi di provinsi Kandahar di selatan. Kelompok militan itu mengatakan mereka sekarang menguasai sekitar seperempat dari 400 distrik di Afghanistan.

Sang juru bicara Taliban menjabarkan pemerintahan Afghanistan saat ini "hampir mati" dan menyebut negara tersebut sebagai "emirat Islam" - indikasi bahwa kelompok itu mempertimbangkan basis teokratik untuk memerintah Afghanistan dan kemungkinan besar tidak akan menyetujui permintaan pemerintah untuk mengadakan pemilihan umum.

Syahin mengatakan pemilihan umum sejauh ini belum dibicarakan dalam perundingan antara Taliban dan pemerintahan Afghanistan.

Pasukan yang dipimpin AS menggulingkan Taliban dari kekuasaan di Afghanistan pada Oktober 2001. Kelompok itu menyembunyikan Osama Bin Laden dan tokoh-tokoh al-Qaeda lainnya yang terlibat dalam serangan 9/11 di AS.

Presiden Biden mengatakan penarikan pasukan Amerika dibenarkan karena pasukan AS telah memastikan bahwa Afghanistan sudah tak bisa lagi menjadi markas bagi jihadis asing untuk berkomplot melawan Barat.

Sementara itu Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menegaskan bahwa pasukan keamanan negara itu sepenuhnya mampu mengatasi pemberontak, tetapi banyak yang percaya penarikan pasukan asing berisiko membuat Afghanistan kembali ke cengkeraman Taliban.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini