JAKARTA - Joseph Osdar, wartawan Kompas, dalam tulisannya "Memasuki Alam "Gaib" Diponegoro" menceritakan pengalaman Peter Carey menginap di gua Selarong. Sebuah gua yang sering digunakan Pangeran Diponegoro bertapa, bersemedi, meditasi di Selarong, Bantul.
Ketika memasuki gua itu Peter melihat dua ekor ular kecil bersarang di situ. Ketika ia mandi di sumber air di belakang selembar daun melekat di pahanya.
"Ini mengingatkan pada Raja Hastina dalam Mahabharata, ketika masih kecil dimandikan air untuk menguatkan tubuhnya. Tapi selembar daun kecil menempel di pahanya sehingga air ajaib itu tidak membasahi sebagian pahanya, sehingga bagian itu menjadi kelemahannya "kata Peter.
Selarong ini menjadi markas besar Diponegoro dalam perang Jawa 1825-1830. Perang yang menewaskan lebih dari 200.000 orang Jawa, 8.000 serdadu Belanda (Eropa) dan 7.000 serdadu bantuan lokal (dari berbagai wilayah Nusantara).
Untuk memenangkan pemberontakan terbesar dalam sejarah perang melawan kolonial ini, Pemerintah Belanda harus mengeluarkan biaya 25 juta gulden atau sekitar 300 juta dollar Amerika Serikat.
Setelah 30 tahun mengadakan penelitian, Peter Carey menerbitkan banyak buku tentang Diponegoro. Pada 19 Desember 2007, Peter Carey meluncurkan buku riwayat Diponegoro di Universitas Leiden, Belanda.
Tahun 2015 Penerbit Buku Kompas, menerbitkan dalam Bahasa Indonesia, buku Peter Carey berjudul "Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). " Beberapa kali buku ini dicetak ulang.
"Saya mencatat kata-kata Peter Carey dalam buku ini. "Masalah-masalah yang dihadapi Diponegoro pada masa hidupnya : korupsi pejabat, langka negarawan, intrik politisi, kemrosotan nilai budaya, dan keharusan 'revolusi mental' atas dasar budi pekerti dan kesetaraan sosial pada jamannya yang marak kolonialisme dan kapitalisme, masih menjadi tantangan kita pada jaman reformasi ini,"tulis Osdar.
Peter menceritakan, sebelum perang pecah , Pangeran Diponegoro banyak bertapa, bersemedi, bertirakat dan bermeditasi di berbagai tempat di bagian selatan Yogyakarta. Antara lain di Gua Song Kamal, Gua Seluman, Guwa Suracala, Mancingan, Gua Langse, Parangkusuma, dan Gua Secang (di Selarong).