SRAGEN — Sebatang pohon trembesi berdiameter 1,5 meter berdiri di tepi Bengawan Solo di Dukuh Butuh, Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, Sragen. Pohon berumur ratusan tahun itu memiliki akar besar-besar dan menjalar ke mana-mana.
Di bawah pohon itu terdapat kedung yang dikenal dengan sebutan Kedung Tingkir. Pohon itu dipercara warga setempat sebagai punden dan menjadi tempat untuk upacara bersih desa setiap habis panen raya.
BACA JUGA: Banjir di Aceh Besar Berangsur Surut, Sebagian Warga Telah Kembali ke Rumah
Dukuh Butuh dihuni sekitar 25 keluarga. Dukuh itu hanya merupakan wilayah satu RT, yakni RT 005/RW 002 Butuh. Lokasi dukuh itu cukup unik karena berada di perlintasan Sungai Bengawan Solo yang membentuk huruf U.
Dukuh Butuh tersebut dipercaya ada kaitannya dengan Dukuh Butuh di desa lain lantaran di Sragen ditemukan lima Dukuh Butuh yang lokasinya sama-sama berada di sekitar aliran Bengawan Solo, yaitu: Dukuh Butuh, Desa Gedongan, Plupuh; Dukuh Butuh, Desa Karangudi, Ngrampal; Dukuh Butuh, Desa Cemeng, Sambungmacan; Dukuh Butuh, Desa Dawung, Jenar; dan Dukuh Butuh, Desa Banaran, Sambungmacan.
BACA JUGA: Toilet di Korea Selatan Olah Tinja Jadi Listrik dan Mata Uang Digital
Ketua RT 005/RW 002, Dukuh Butuh, Cemeng, Sudarmanto, (58 tahun), menyampaikan nama Butuh ini berkaitan dengan nama Butuh di desa lain. Dia menduga nama Butuh itu berkaitan dengan kisah perjalanan Joko Tingkir sebelum menjadi Sultan Pajang.
Kandang Buaya
Dugaan Sudarmanto itu diperkuat adanya kandang buaya di dekat wilayah Butuh yang juga berada di Bengawan Solo. Sudarmanto merupakan generasi kelima dari tokoh masyarakat setempat bernama Eyang Cokro yang dikenal sebagai cikal bakal di Dukuh Butuh itu.