Kisah Wanita Muslim yang Jadi Korban Pelecehan Seksual dan Dijual Secara Online

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 13 Juli 2021 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 13 18 2439796 kisah-wanita-muslim-yang-jadi-korban-pelecehan-seksual-dan-dijual-secara-online-4XxO4bNznF.jpg Kisah wanita muslim yang alami pelecehan seksual dan dijual secara online (Foto: Hana Khan)

Dia yakin bahwa mereka yang berupaya melelangnya di Twitter adalah orang-orang yang sama di balik aplikasi Sulli Deals dan kanal YouTube itu - yang sejak itu sudah ditutup oleh penyedia platform.

"Bila polisi tidak menemukan siapa saja yang menjual kami, saya akan ke pengadilan," ujar Khan. "Saya akan mencari keadilan sampai kapan pun,” tegasnya.

Pekan lalu, Twitter juga menutup akun-akun yang mengeklaim berada di balik aplikasi itu dan mengaku akan segara kembali.

Kalangan pegiat mengatakan bahwa pelecehan secara online itu memiliki kekuatan untuk "meremehkan, merendahkan, mengintimidasi, dan akhirnya membungkam perempuan".

Pekan lalu, lebih dari 200 aktor, musisi, jurnalis dan pejabat pemerintah terkemuka di seluruh dunia membuat surat terbuka yang mendesak CEO Facebook, Google, Tiktok dan Twitter untuk "memprioritaskan" keselamatan perempuan.

"Internet itu ibarat alun-alun sebuah kota abad ke-21," tulis mereka. "Ini tempat di mana berlangsung debat, membuat komunitas, menjual produk serta membuat reputasi. Namun skala pelecehan daring itu membuat, bagi banyak sekali perempuan, alun-alun kota digital itu tidak aman,” lanjutnya.

Laporan dari Amnesty International atas pelecehan online di India tahun lalu menunjukkan semakin vokal seorang perempuan, maka semakin sering dia diincar.

Seperti halnya yang dialami perempuan kulit hitam di Inggris dan Amerika Serikat, perempuan pemeluk agama minoritas maupun dari kasta rendah di India juga lebih rentan dilecehkan.

Nazia Erum, penulis dan mantan juru bicara Amnesty International di India, mengatakan bahwa ada sejumlah perempuan Muslim di media sosial yang "diburu dan ditakuti."

"Serangan yang ditargetkan dan direncanakan itu merupakan upaya untuk membungkam suara kaum perempuan Muslim berpendidikan yang mengutarakan opini mereka dan lantang menentang Islamofobia. Ini upaya untuk membungkam mereka, mempermalukan mereka, merebut ruang yang mereka tempat," urainya.

Amin menyatakan para pelaku pelecehan "tidak punya rasa takut karena mereka tahu akan lolos dari jeratan hukum begitu saja."

Dia merujuk pada sejumlah kasus kekerasan atas umat Muslim di India yang dilakukan oleh para pendukung partai BJP yang berkuasa, seperti seorang menteri pemerintah yang mengalungkan bunga kepada delapan orang Hindu yang divonis bersalah menghukum mati seorang Muslim tanpa pengadilan dan seorang menteri penyiaran baru yang tahun lalu dalam suatu video yang viral terlibat dalam kerumunan massa umat Hindu dengan yel-yel "tembak pengkhianat [warga Muslim]" terkait Undang-undang Amandemen Kewarganegaraan.

Bagi para perempuan yang identitas mereka dicatut dan digunakan untuk aplikasi "Sulli Deals", perjuangan memperoleh keadilan bisa makan waktu lama dan sulit. Namun mereka bertekad untuk meraihnya.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini