Taliban Tawarkan Gencatan Senjata, Imbalan Bebaskan 7.000 Tahanan

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 16 Juli 2021 12:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 18 2441582 taliban-tawarkan-gencatan-senjata-imbalan-bebaskan-7-000-tahanan-N9ODxeKnHW.jpg Bentrokan antara pasukan keamanan Afghanistan dan Taliban terus meningkat (Foto: EPA)

AFGHANISTAN - Taliban mengusulkan gencatan senjata tiga bulan di Afghanistan dengan imbalan pembebasan 7.000 tahanan pejuang yang ditangkap.

Nader Nadery, seorang negosiator pemerintah Afghanistan, menggambarkan proposal tersebut sebagai "permintaan besar". Pemerintah sejauh ini belum mengatakan bagaimana reaksinya.

Nadery mengatakan para pemimpin Taliban juga telah meminta agar nama mereka dihapus dari daftar hitam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Bentrokan antara pemerintah dan Taliban telah meningkat sejak pasukan Amerika Serikat (AS) mulai menarik diri dari negara itu.

Taliban baru-baru ini mengklaim pejuang mereka telah merebut kembali 85% wilayah di Afghanistan - angka yang tidak mungkin untuk diverifikasi secara independen dan disengketakan oleh pemerintah.

Perkiraan lain mengatakan Taliban menguasai lebih dari sepertiga dari 400 distrik Afghanistan.

(Baca juga: Biden Luncurkan Program Anti-Kemiskinan Terbesar, Beri Dana ke Keluarga yang Miliki Anak hingga Rp4 Juta)

Koresponden BBC Lyse Doucet mengatakan tahun lalu 5.000 tahanan Taliban dibebaskan dan diyakini bahwa banyak dari mereka kembali ke medan perang, memperburuk kekerasan di negara itu.

Pada Kamis (16/7), pasukan Afghanistan mengatakan mereka telah merebut kembali perbatasan dengan Pakistan yang telah diambil oleh Taliban. Para pemberontak menyangkal telah kehilangan kendali atas pos perbatasan.

Rekaman video yang diposting ke media sosial (medsos) awal pekan ini tampaknya menunjukkan bendera putih Taliban dikibarkan di atas penyeberangan Spin Boldak dekat Kandahar.

(Baca juga: Influencer Instagram Tewas Jatuh Terpeleset dari Air Terjun Saat Selfie)

Pasukan Afghanistan telah berjuang untuk menghentikan kemajuan Taliban melalui negara itu, yang telah dipercepat sejak kesepakatan 2020 dicapai dengan pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump.

Di bawah ketentuan kesepakatan itu, AS dan sekutu NATO-nya setuju untuk menarik semua pasukan sebagai imbalan atas komitmen militan untuk tidak mengizinkan kelompok ekstremis beroperasi di daerah yang mereka kuasai.

Namun Taliban tidak setuju untuk berhenti memerangi pasukan Afghanistan. Para gerilyawan sekarang sedang dalam pembicaraan dengan pemerintah Afghanistan - sesuatu yang sebelumnya mereka tolak - tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangan mereka, dengan pembicaraan yang hampir tidak berjalan.

Banyak yang takut pasukan keamanan Afghanistan akan runtuh sepenuhnya di bawah serangan gencar, dengan mantan Presiden AS George W Bush - yang berada di balik keputusan untuk mengirim pasukan AS ke negara itu pada tahun 2001 - memperingatkan bahwa konsekuensi dari penarikan AS kemungkinan akan "sangat buruk. ".

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini