Ilmuwan Temukan Virus Usia 15.000 Tahun, Tidak Bahaya bagi Manusia

Susi Susanti, Koran SI · Sabtu 24 Juli 2021 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 24 18 2445377 ilmuwan-temukan-virus-usia-15-000-tahun-tidak-bahaya-bagi-manusia-fGkOJRU7e1.jpeg Ilmuwan temukan virus berusia 15.000 ribu tahun (Foto: CNN)

TIBET - Para ilmuwan telah menemukan virus yang sebelumnya tidak diketahui berasal dari 15.000 tahun yang lalu dalam sampel es yang diambil dari gletser di dataran tinggi Tibet.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan awal pekan ini di jurnal Microbiome, virus tersebut tidak seperti virus yang telah dikatalogkan oleh para ilmuwan sebelumnya.

Sebuah tim termasuk ilmuwan iklim dan ahli mikrobiologi dari Ohio State University mengambil dua inti es dari puncak lapisan es Guliya, pada ketinggian 22.000 kaki (6/705 meter) di atas permukaan laut, di China barat pada 2015.

Penulis utama studi tersebut, ahli mikrobiologi Zhiping Zhong, mengatakan kepada CNN pada Kamis (22/7), inti es sedalam 1.017 kaki (310 meter), Kemudian dipotong menjadi beberapa bagian dengan panjang tiga kaki dan diameter empat inci.

(Baca juga: Hujan Lebat Picu Banjir dan Tanah Longsor, 112 Orang Tewas)

Tim kemudian menganalisis es dan menemukan 33 virus, setidaknya 28 di antaranya sebelumnya tidak diketahui sains dan bertahan karena dibekukan.

Menurut penelitian virus kemungkinan berasal dari tanah atau tanaman, bukan dari manusia atau hewan, dan akan disesuaikan dengan kondisi ekstrem. Peneliti mengatakan virus ini tidak akan berbahaya bagi manusia.

Menurut penelitian tersebut, es menangkap isi atmosfer melalui waktu, termasuk virus dan mikroba.

(Baca juga: Varian Delta Melonjak, Filipina Larang Wisatawan dari Thailand dan Malaysia)

"Es menyediakan arsip beku," terang rekan penulis studi Lonnie Thompson, profesor ilmu bumi di Ohio State dan ilmuwan peneliti senior di Byrd Polar Research Center universitas, mengatakan kepada CNN pada Kamis (22/7).

Relatif sedikit yang diketahui tentang virus di gletser, tetapi bidang ini semakin penting karena es di seluruh dunia mencair akibat perubahan iklim.

"Ini benar-benar menarik perhatian publik," kata Thompson, yang menambahkan bahwa pandemi Covid-19 telah meningkatkan kesadaran akan pentingnya belajar tentang komunitas mikroba.

Rekan penulis Matthew Sullivan, profesor mikrobiologi di Ohio State dan direktur Center of Microbiome Science universitas. Dia mengatakan metode yang digunakan dalam penelitian ini memungkinkan para ilmuwan untuk menilai tingkat evolusi virus yang ada di berbagai lapisan inti es.

Ini juga bisa bermanfaat dalam pencarian kehidupan di Mars. "Begitu Anda mengembangkan teknologi baru itu, itu dapat membantu Anda menjawab pertanyaan di lingkungan lain yang sangat sulit," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini