JAKARTA - Pemerintah akan menambah jalur distribusi obat Covid-19. Hal ini dilakukan untuk mempercepat penyaluran obat ke berbagai apotek.
"Ini bukan masalah harga lagi, ini adalah masalah distribusinya dan GP Farmasi (Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia) akan membantu kita mendistribusikan ke sekitar 12 ribu apotek aktif di Indonesia," kata Menkes Budi Gunadi di Kantor Presiden Jakarta, Senin (26/7/2021).
Seperti diketahui pada Jumat 23 Juli 2021, Presiden Joko Widodo sempat mengecek ketersediaan obat di satu apotek di Kota Bogor. Saat itu Presiden Jokowi mendapati tidak ada lagi obat Oseltamivir, Fapiravir maupun Azithromycin yang biasa menjadi obat untuk penderita Covid-19.
Baca juga: Kabar Baik, Ariza Sebut Angka Covid-19 di Jakarta Sudah Turun
Baca juga: Kena Razia STRP, Pengendara Berlomba-lomba Cari Jalan Alternatif
Budi menargetkan ada 9.000 apotek yang mendapat distribusi obat secara konsisten demi menstabilkan suplai obat di seluruh Indonesia.
Menkes menjelaskan bahwa selain lewat apotek, Presiden Jokowi juga memerintahkan untuk membuka jalur baru distribusi obat Covid-19.
"Jalur yang pertama adalah melalui TNI. Jadi kalau ada yang terkena positif bisa melapor ke Puskesmas terutama rakyat kita yang ada di pelosok desa. TNI ini nanti akan mengirimkan langsung obatnya ke mereka, memang kuncinya harus di cek melalui puskesmas. Bapak Presiden sudah mengarahkan 2 juta paket obat akan kita kirim melalui TNI," ungkap Budi.
Jalur selanjutnya adalah dengan mengakses melalui "telemedicine".
"Jadi ada 11 perusahaan 'telemedicine' yang sudah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan memberikan jasa konsultasi dokter gratis dan jasa pengiriman obat gratis," tambah Budi.
Namun ia mengakui bahwa "telemedicine" baru diluncurkan di seluruh ibukota provinsi di Pulau Jawa dan Bali dan rencananya nanti akan diperluas ke seluruh Indonesia.