AS Kecam Pelecehan dan Intimidasi terhadap Wartawan Asing yang Meliput Banjir di China

Agregasi VOA, · Sabtu 31 Juli 2021 06:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 31 18 2448768 as-kecam-pelecehan-dan-intimidasi-terhadap-wartawan-asing-yang-meliput-banjir-di-china-flzJWkOqcJ.jpg Warga terdampak banjir di Zhengzhou, Henan, China. (Foto : Reuters)

PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) menyatakan “sangat prihatin” atas pelecehan dan intimidasi terhadap koresponden asing yang meliput banjir yang menewaskan korban di China. Demikian dikatakan kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Kamis (29/7/2021).

Pernyataannya muncul kurang dari 24 jam setelah Beijing menuduh BBC menyiarkan “berita palsu” mengenai banjir menghancurkan pekan lalu di Henan, provinsi di China Tengah. Badan penyiaran Inggris itu menyatakan wartawannya menghadapi sikap bermusuhan.

“AS sangat prihatin dengan pengawasan, pelecehan, dan intimidasi yang semakin keras terhadap wartawan AS dan wartawan asing di Republik Rakyat China, termasuk terhadap wartawan asing yang meliput kehancuran dan tewasnya korban akibat banjir baru-baru ini di Henan,” kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri Ned Price dalam suatu pernyataan.

“Pemerintah China mengklaim menyambut baik media asing dan mendukung tugas mereka, tetapi tindakannya berbeda,” kata Price.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian sebelumnya pada Kamis menyebut badan penyiaran Inggris BBC sebagai “Perusahaan Penyiaran Berita Palsu” yang telah “menyerang dan mencemarkan China, sangat menyimpang dari standar jurnalistik.”

Baca Juga : Korban Tewas Banjir China Bertambah jadi 69 Orang, 5 Masih Hilang 

BBC telah menyatakan wartawannya yang meliput banjir telah menjadi sasaran kritik online. Sementara media berita lainnya diganggu di lapangan dalam “berbagai serangan yang terus membahayakan wartawan asing.”

BBC melaporkan tentang banjir pekan lalu di Kota Zhengzhou yang menewaskan 14 orang, dan lebih dari 500 orang komuter terperangkap sewaktu sistem kereta bawah tanah kota itu kebanjiran pada jam-jam sibuk, sementara sensitivitas terhadap penggambaran negatif mengenai China meningkat.

Wartawan AFP juga dipaksa oleh warga Zhengzhou yang menunjukkan sikap bermusuhan untuk menghapus rekaman video dan dikepung oleh puluhan lelaki sewaktu sedang melapor dari terowongan yang terendam air.

Zhao pada Kamis (29/7) mengatakan para koresponden asing “menikmati suasana peliputan yang bebas dan terbuka di China .”

Namun, berbagai organisasi kebebasan pers mengatakan ruang gerak bagi wartawan asing untuk beroperasi di sana diperketat, dengan para wartawan dibuntuti di jalan-jalan, mengalami pelecehan online dan pengajuan visa mereka ditolak. Sing dan dunia untuk Olimpiade dan Paralimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing,” katanya dalam sebuah pernyataan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini