Wanita Ini Dituntut Usai Posting Foto 'Sex Toys' di Museum Seks, Terancam Penjara 3 Tahun

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 06 Agustus 2021 08:49 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 06 18 2451712 wanita-ini-dituntut-usai-posting-foto-sex-toys-di-museum-seks-terancam-penjara-3-tahun-RO6M3QRJQO.jpg Influencer asal Turki dituntut karena posting foto di dalam Museum Seks (Foto: Merve Taskin)

TURKI - Seorang influencer media sosial (medsos) Turki mengatakan dia sedang dituntut di negaranya karena memposting foto di dalam Museum Seks di Amsterdam yang terkenal di dunia.

Merve Taskin, 23, berbagi foto alat bantu seks (sex toys) yang dibelinya di museum selama perjalanan ulang tahun ke Belanda pada Januari tahun lalu.

Beberapa bulan kemudian dia mengatakan dia ditangkap di Turki, karena berbagi konten cabul dianggap sebagai kejahatan.

Sekarang dia mengatakan dia telah dipanggil ke pengadilan untuk menghadapi tuduhan cabul.

Di bawah hukum Turki, siapa pun yang menerbitkan materi cabul dapat didenda atau dijatuhi hukuman penjara hingga tiga tahun.

"Tujuan saya adalah membuat lelucon," terang Taskin, seorang tokoh Instagram terkemuka di Turki dengan hampir 600.000 pengikut, mengatakan kepada BBC.

(Baca juga: Biden Janji Beri Perlindungan Warga Hong Kong di AS Selama 18 Bulan)

Kedutaan Turki di London tidak segera menanggapi permintaan komentar. Panggilan tidak dijawab.

Taskin, yang tinggal di Istanbul, mengatakan dia mengunjungi Amsterdam bersama dua temannya untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-22.

Salah satu item dari daftar tugas mereka adalah Museum Seks, yang menarik wisatawan dari seluruh dunia.

Taskin sangat aktif di Instagram. Dia kerap berbagi foto barang dagangan yang dijual, termasuk pasta berbentuk penis dan "pembuka botol seksi".

(Baca juga: Vaksin Covid-19 Moderna 93% Efektif Usai 6 Bulan)

Bagi Taskin, foto-foto itu tampak cukup polos, tetapi di Turki, pihak berwenang mengambil pandangan yang berbeda.

Dia mengatakan dia ditangkap dua kali dalam beberapa bulan setelah dia kembali, sekali selama liburan musim panas. Pada kesempatan kedua, dia mengatakan telah memberikan keterangan kepada jaksa.

Taskin percaya hal itu akan menjadi akhir dari masalah ini. Namun awal tahun ini, dia terkejut menerima pesan teks yang memanggilnya ke pengadilan di Istanbul.

BBC telah melihat tangkapan layar dari pesan teks, yang mengatakan bahwa Taskin diperkirakan akan muncul di pengadilan pada 26 Oktober mendatang karena melanggar Pasal 226 KUHP Turki.

Pasal 226 mengacu pada serangkaian kejahatan yang berkaitan dengan materi cabul yang dianggap ofensif.

Sejak menerima panggilan pengadilan, Taskin mengatakan dia telah menghapus banyak tweet "agar mereka tidak mengeluh lagi".

Taskin mengatakan dia takut untuk bersaksi di pengadilan tetapi akan melakukannya dengan sukarela. Dia tweeted tentang panggilan pengadilan minggu lalu, yang mengarah ke liputan luas kasusnya di Belanda.

Direktur Museum Seks, Monique van Marle, mengatakan kepada BBC bahwa dia menganggap situasi ini "benar-benar konyol".

Dia mengatakan museum telah mengirim pesan kepada Taskin untuk mengatakan "maaf mendengar tentang masalah yang Anda alami", menyebutnya sebagai "panutan yang hebat bagi wanita lain".

"Museum kami dimaksudkan untuk mendidik orang-orang di seluruh dunia tentang sejarah seks. Kami mengagumi Anda karena mengekspresikan diri dan memposting gambar-gambar seperti itu," bunyi pesan tersebut.

Situs web, penerbit, dan kritikus pemerintah telah disensor dan dituntut karena kecabulan di bawah hukum Turki.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan kebebasan berekspresi online telah menurun di bawah pemerintahan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Para pengkritiknya menyebutnya sebagai pemimpin otokratis yang tidak toleran terhadap perbedaan pendapat, yang dengan keras membungkam siapa pun yang menentangnya dan nilai-nilai Islam konservatifnya.

Freedom House mengatakan Turki tetap menjadi salah satu tempat paling menantang di kawasan Eropa untuk menggunakan hak seseorang untuk kebebasan berbicara dan berekspresi. Freedom House menjelaskan wartawan, aktivis dan tokoh oposisi menghadapi penganiayaan luas karena mengkritik pemerintah.

Tahun lalu, sensor media sosial diperketat, setelah parlemen Turki mengesahkan undang-undang untuk mengontrol platform.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini