MAJAPAHIT pada abad XII - XV Masehi merupakan sebuah negara adidaya dan adikuasa di kawasan Asia Tenggara, yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi orang-orang asing untuk mengunjunginya.
Pengertian orang asing disini adalah orang yang datang dari daerah lain yang mempunyai raut wajah yang berbeda dengan raut wajah orang Majapahit. Demikian dikutip dari buku "Majapahit, Batas Kota dan Jejak Kejayaan di Luar Kota", editor Prof Dr Inajati Adrisijanti yang diterbitkan Kepel Press, 2014.
Baca juga: Mahapatih Gajah Mada Pilih Bertapa Usai Lepas Jabatan di Majapahit
Kedatangan orang-orang asing tersebut tentunya mempunyai berbagai macam tujuan antara lain untuk berdagang. Data arkeologi seperti prasasti, naskah kuno, dan berita asing memberikan informasi yang banyak mengenai keberadaan beberapa orang asing di Majapahit.
Selain data arkeologi tersebut di atas data arkeologi berupa arca batu, maupun terakota juga dijumpai adanya penggambaran orang asing di Majapahit. Sumber tertulis yang paling awal pada masa Majapahit yang menyinggung mengenai keberadaan orang-orang asing adalah Prasasti Balawi (1305 M.).
Baca juga: Cerita Suram Kerajaan Majapahit, Keturunan Hayam Wuruk Berebut Tahta Raja
Prasasti Balawi atau Prasasti Kertarajasa merupakan prasasti koleksi Museum Nasional Jakarta berasal dari daerah Trowulan, Jawa Timur. Prasasti ini ditulis menggunakan huruf dan bahasa Jawa Kuno.
Pada prasasti ini disebutkan adanya orang asing dari Keling, Arya, Singhala, Karnnataka, Bahlara, Cina, Campa, Mandikira, Remin, Khmer, Bebel, dan Mambaŋ.