Penelitian dari ilmuwan penginderaan jauh di East China Normal University, Dhritiraj Sengupta ini menunjukkan penurunan muka tanah di pulau artificial itu berlangsung lebih cepat dibandingkan daratan Jakarta.
Misalnya penurunan muka tanah Jakarta Utara sekitar puluhan milimeter per tahun, sedangkan di pulau artificial atau reklamasi berlangsung lebih dari 80 mm per tahun.
"Ini adalah fakta yang membuat kita makin yakin menghentikan tidak meneruskan reklamasi adalah langkah yang tepat untuk mengurangi dampak naiknya permukaan air laut," terangnya.
Anies membeberkan bahwa dalam laporan penurunan muka tanah yang disampaikan JICA, terjadi perlambatan penurunan muka tanah dari ekstraksi kebijakan penggunaan air tanah di Jakarta.
Baca juga: Joe Biden Bilang Jakarta Akan Tenggelam, Megawati: Saya Sudah Ngomong dari Zaman Sutiyoso
Berdasarkan data terebut, penurunan muka tanah terjadi sangat cepat mencapai 22 mm per tahun di Jakarta Utara pada 2007. Kemudian, penurunan berhasil dikurangi 2 mm per tahun lewat stasiun pengurukan lanscape swaden.
Anies menyampaikan, pihaknya punya dua hal dalam mengatasi naiknya permukaan air laut dan turunnya permukaan tanah. Pertama, Pemprov DKI selalu menggunakan lagkah ilmiah, dan kedua memprioritaskan keadilan sosial dan kelestarian alam.
"Jadi gunakan bukti ilmiah dan prioritas nya sustainability and social justice," tegas dia.
Baca juga: Joe Biden Sebut Jakarta Tenggelam 10 Tahun Lagi, Ini Komentar Para Tokoh