Share

Perjuangan Guru Kobarkan Semangat Belajar Siswa di Tengah Pandemi dan Keterbatasan

Fitria Dwi Astuti , Okezone · Senin 16 Agustus 2021 07:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 16 1 2456125 perjuangan-guru-kobarkan-semangat-belajar-siswa-di-tengah-pandemi-dan-keterbatasan-kzMuBwgiZ9.jpg Foto: Dok Kemendikbud

Merebaknya pandemi virus Covid-19 sejak awal 2020 di dunia termasuk Indonesia sudah berdampak pada sektor pendidikan. Untuk mencegah terjadinya penularan, Pemerintah meniadakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dan menggantinya dengan Belajar Dari Rumah (BDR).

Meski dikatakan belajar dari rumah, namun pembelajaran ini tetap dipandu oleh para Guru. Dalam praktik mengajarnya, guru menggunakan metode daring atau online. Metode ini selain bertumpu pada perangkat, juga pada sinyal. Bagi daerah yang memiliki infrastruktur memadai, metode ini tidak menimbulkan kendala yang berarti. Namun tidak bagi sekolah yang berada di daerah yang khususnya di daerah 3T yaitu tertinggal, terluar, terdepan. Selain keterbatasan perangkat keras, mereka juga memiliki keterbatasan sinyal bahkan keterbatasan dana.

Meski dalam kondisi yang terbatas, namun tidak membatasi kegiatan belajar mengajar. Waktu terus berjalan. Para siswa harus tetap mengenyam pendidikan. Dalam kondisi yang demikian, gurulah yang menjadi lokomotifnya. Dengan kreatifitasnya, ia tidak menyerah dengan keadaan. Berikut sejumlah kisah perjuangan dan kreatifitas yang menolak kalah dengan keadaan agar Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

1. Emilia Wau

Emilia Wau adalah salah satu Tutor di PAUD SENORA di desa Orahili FAU, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Selama pandemi Covid-19 ia sangat patuh dengan instruksi Pemerintah. Dalam keseharian selalu menerapkan protokol kesehatan. Apalagi usianya tidak muda lagi.

Namun di satu sisi ia memiliki tanggung jawab moral untuk turut memberi edukasi protokol kesehatan pada anak didiknya. Ia memiliki inisiatif memberikan edukasi protokol kesehatan pada anak didiknya dari rumah ke rumah. Mulai dari cara mencuci tangan, hingga memakai masker yang aman.

Selain itu, agar pembelajaran tetap berjalan, ia membuat jadwal masuk anak didiknya dengan bergantian. Bahkan ia juga menyelipkan materi pembelajaran bercocok tanam untuk ketahanan pangan di tengah pandemi. Ketakutan Emilia akan pandemi, kalah dengan tanggung jawab moral dan ketaatannya pada protokol kesehatan.

2. Sadarman, Guru SDAN 07 Tubang Raeng

Bagi daerah yang memiliki infrastruktur memadai, pembelajaran daring tidak menjadi kendala. Tapi tidak bagi daerah yang minim fasilitas. Hal ini dialami murid-murid Sadarman, Guru SDAN 07 Tubang Raeng.

Hampir 97 persen orang tua siswanya tidak memiliki HP Android, dan tidak semua tempat tinggal siswa ada sinyal. Bahkan ada sejumlah tempat tinggal siswanya yang belum masuk listrik, sehingga pada waktu mereka belajar menggunakan pelita pada malam hari. Tak pelak selama pandemi ini ia sebagai guru sangat sulit untuk melakukan pembelajaran secara online atau daring.

Oleh karena itu agar pembelajaran tidak terhenti, ia mengambil inisiatif berkunjung ke rumah siswa. Ia dengan sabar membagikan teks bacaan, memberi tugas kepada siswa, hingga melakukan tanya jawab kepada siswa dilakukan di kala kunjungannya.

Motivasi melakukan kunjungan ke rumah siswa karena ia merasa memiliki tanggung jawab moral. Tanggung jawab untuk memberi semangat belajar siswa meski belajar di rumah. Ia juga ingin memberikan penguatan serta pemahaman bagi mereka atas wabah yang yang sedang melanda bangsa Indonesia.

3. Esnawati, Guru SDAN 05 Angan Tembawang

Esnawati mengemban tugas di daerah yang belum teraliri listrik hingga sekarang. Beberapa rumah menggunakan genset jika ingin terang rumahnya. Sinyal pun sulit dicapai terlebih internet. Tak ayal sulit bagi mereka untuk melakukan pembelajaran online. Ia mulai berpikir bagaimana caranya supaya bisa memastikan anak-anak tetap belajar. Akhirnya ia memutuskan mengunjungi anak-anak yang terjangkau tempat tinggalnya dan menanyakan apa saja yang sudah dipelajari bersama orang tua atau saudaranya.

Ia juga terpikir untuk mengumpulkan anak-anak yang terdekat dan mengumpulkan mereka di rumahnya tentunya dengan prokes yang ketat. Itu dilakukan di malam hari. Ia tidak hanya mengumpulkan muridnya, tapi mulai dari anak PAUD hingga SD, dan siapa pun yang mau belajar, disilakan.

4. Sumarni, Guru PAUD, Melawi

Seperti wilayah lainnya, proses belajar mengajar formal di Kabupaten Melawi terakhir dilakukan akhir Maret 2020 sehingga semenjak itu program “Merdeka Belajar” diterapkan juga di desa-desa di Kabupaten Melawi. Untuk wilayah Melawi yang secara akses internet dan telekomunikasi tidak tersedia, bukan hal mudah untuk belajar sendiri di rumah.

Melihat hal ini Sumarni tidak tinggal diam. Ia tidak tega melihat anak-anak hanya bermain bebas tanpa dampingannya. Sebelum pandemi anak-anak ini minimal selama tiga jam belajar sambil bermain dengannya. Oleh karena itu, ia yang telah 13 tahun mengabdikan diri sebagai guru PAUD, timbul ide.

Ia akan saling kunjung dengan orangtua siswa. Saat itulah proses pendampingan

belajar dilakukan. Ia memberikan materi belajar untuk dikerjakan anak serta didampingin orangtua misalnya melipat kertas, mewarnai dan memindahkan huruf.

5. Rini, Guru PAUD

Ibu Rini (46TH) adalah seorang guru PAUD Kartini dan SD di Desa Mensiap Baru. Ia mengajar kurang lebih 11 tahun lamanya. Kecintaannya terhadap anak-anak membuat dia bertahan mengajar hingga bertahun-tahun. Selain mengajar dia juga seorang ibu rumah tangga yang memiliki 3 orang anak.

Imbauan pemerintah sejak Awal April 2020 mengharuskan sarana pendidikan untuk tutup secara formal digantikan dengan merdeka belajar di rumah dilaksanakannya. Namun ia melihat, semangat belajar anak-anak menjadi kendor.

Tidak tega dengan kenyataan tersebut, ia memindah cara belajar anak. Ia menjadikan rumahnya menjadi sekolah. Tapi berbeda dengan belajar di sekolah. Anak-anak tidak bisa bermain, dan tidak semua saya diizinkan untuk belajar di rumah. Karena menghindari perkumpulan yang melibatkan banyak anak. Ia melakukan sistem bergiliran kepada mereka. Dengan cara tersebut, siswanya masih memiliki semangat belajar yang berkobar.

6. Novita A. Bouway, Papua

Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi ini, membuat Guru di Papua ini harus memutar otak. Berbagai kendala dialami saat diputuskan belajar dilakukan di rumah.

Ia menceritakan sejumlah kendala tersebut mulai dari tidak semua siswa mempunyai buku paket lengkap, tidak semua siswa mempuyai HP canggih yang dapat mengases pembelajaran jarak jauh hingga beban biaya dan kemampuan orang tua dalam menggunakan HP.

Oleh karena itu sebagai pendidik, ia berupaya agar siswa saya dapat belajar di rumah tentunya disesuaikan dengan kondisi tiap siswa. Misalnya, siswa yang mempunyai HP canggih, ia akan memberikan soal serta materi lewat Whatsapp grup. Sementara itu, siswa yang tidak memiliki HP canggih akan dibuatkan soal dan diperbanyak (foto kopi) oleh sekolah dan diberikan pada siswa.

7. Maria Ernaliana Seko dan Kristina Ani

Keduanya guru wali kelas pada salah satu sekolah dasar swasta di Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur ini mengaku keterbatasan sarana komunikasi membuat pembelajaran daring cukup susah diterapkan.

Mengantisipasi hal ini, Erna bersama Kepala Sekolah dan para guru di sekolahnya bersepakat mengatur jadwal bimbingan belajar kepada para murid. Mereka juga sepakat memberikan bimbingan belajar kepada para murid. Murid akan diberikan secara daring jika ada sarana ponsel. Sementara murid yang belum memiliki ponsel akan diberikan lembar tugas secara manual.

Ia dan rekan-rekan guru juga selalu siap memberikan bimbingan jika materi belajar yang diberikan belum dipahami siswa. Proses bimbingan belajar kepada para murid disesuaikan dengan kebutuhan.

8. Rofinus Amat, Kepala Sekolah Manggarai Timur SDI Lento

Sebagai kepala sekolah SDI Lento yang terletak di Desa Pocoranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur ini, sejak kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah, ia memberikan beberapa arahan yang dapat mendukung KBM tetap berjalan. Ia memanfaatkan forum di Whatsapp untuk mempermudah koordinasi antara kepala sekolah dengan para guru. Ia juga mengedukasi mengenai protokol kesehatan kepada anak-anak yang sudah dibagi ke dalam beberapa kelompok siswa berdasarkan lokasi tempat tinggal.

Sang Kepala Sekolah juga menerapkan sistem kunjungan langsung ke rumah guru dan siswa. Kunjungan rumah ini bertujuan untuk mengajak anak belajar di rumah sekaligus mengajak orangtua untuk mengajari anak-anaknya belajar di rumah. Karena waktu para guru sangat terbatas untuk mengunjungi semua anak didik di rumah mereka secara intensif. Hal ini juga untuk meminimalisir resiko guru terpapar Covid-19. Tak hanya itu, sekolah membagikan buku-buku mata pelajaran kepada anak didik. Dengan cara ini, harapannya satu, anak didiknya tetap bersemangat menjalani pembelajaran di tengah keterbatasan.

Itulah sederet nama pahlawan pendidikan yang berjuang di tengah pandemi, dan masih banyak lainnya. Perjuangan mereka seolah menggambarkan ketangguhan perjuangan menerobos keterbatasan di tengah pandemi demi menumbuha rasa cinta belajar terhadap siswa-siswi untuk Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh !

CM

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini