Merebaknya pandemi virus Covid-19 sejak awal 2020 di dunia termasuk Indonesia sudah berdampak pada sektor pendidikan. Untuk mencegah terjadinya penularan, Pemerintah meniadakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dan menggantinya dengan Belajar Dari Rumah (BDR).
Meski dikatakan belajar dari rumah, namun pembelajaran ini tetap dipandu oleh para Guru. Dalam praktik mengajarnya, guru menggunakan metode daring atau online. Metode ini selain bertumpu pada perangkat, juga pada sinyal. Bagi daerah yang memiliki infrastruktur memadai, metode ini tidak menimbulkan kendala yang berarti. Namun tidak bagi sekolah yang berada di daerah yang khususnya di daerah 3T yaitu tertinggal, terluar, terdepan. Selain keterbatasan perangkat keras, mereka juga memiliki keterbatasan sinyal bahkan keterbatasan dana.
Meski dalam kondisi yang terbatas, namun tidak membatasi kegiatan belajar mengajar. Waktu terus berjalan. Para siswa harus tetap mengenyam pendidikan. Dalam kondisi yang demikian, gurulah yang menjadi lokomotifnya. Dengan kreatifitasnya, ia tidak menyerah dengan keadaan. Berikut sejumlah kisah perjuangan dan kreatifitas yang menolak kalah dengan keadaan agar Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.
1. Emilia Wau
Emilia Wau adalah salah satu Tutor di PAUD SENORA di desa Orahili FAU, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Selama pandemi Covid-19 ia sangat patuh dengan instruksi Pemerintah. Dalam keseharian selalu menerapkan protokol kesehatan. Apalagi usianya tidak muda lagi.
Namun di satu sisi ia memiliki tanggung jawab moral untuk turut memberi edukasi protokol kesehatan pada anak didiknya. Ia memiliki inisiatif memberikan edukasi protokol kesehatan pada anak didiknya dari rumah ke rumah. Mulai dari cara mencuci tangan, hingga memakai masker yang aman.
Selain itu, agar pembelajaran tetap berjalan, ia membuat jadwal masuk anak didiknya dengan bergantian. Bahkan ia juga menyelipkan materi pembelajaran bercocok tanam untuk ketahanan pangan di tengah pandemi. Ketakutan Emilia akan pandemi, kalah dengan tanggung jawab moral dan ketaatannya pada protokol kesehatan.
2. Sadarman, Guru SDAN 07 Tubang Raeng
Bagi daerah yang memiliki infrastruktur memadai, pembelajaran daring tidak menjadi kendala. Tapi tidak bagi daerah yang minim fasilitas. Hal ini dialami murid-murid Sadarman, Guru SDAN 07 Tubang Raeng.
Hampir 97 persen orang tua siswanya tidak memiliki HP Android, dan tidak semua tempat tinggal siswa ada sinyal. Bahkan ada sejumlah tempat tinggal siswanya yang belum masuk listrik, sehingga pada waktu mereka belajar menggunakan pelita pada malam hari. Tak pelak selama pandemi ini ia sebagai guru sangat sulit untuk melakukan pembelajaran secara online atau daring.