Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Kelompok Sukarni, para Pemuda yang Menyebarluaskan Berita Proklamasi

Tim Okezone , Jurnalis-Rabu, 18 Agustus 2021 |06:30 WIB
 Cerita Kelompok Sukarni, para Pemuda yang Menyebarluaskan Berita Proklamasi
Foto: Illustrasi Okezone.com
A
A
A

JAKARTA - Kelompok pemuda yang cukup berperan dalam penyebarluasan berita proklamasi adalah Sukarni bersama dengan kelompoknya. Surkani Kartodiwirjo merupakan salah satu tokoh di balik penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Soekarni pula salah satu tokoh yang terlibat dalam penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Kelompok Sukarni ini bermarkas di Bogor Lama (sekarang Jalan Dr. Sahardjo SH) yang berusaha mengatur strategi untuk mengatur penyebarluasan berita proklamasi. Seluruh alat komunikasi yang tersedia dipergunakan, seperti pengeras suara, pamplet, dan bahkan mobil-mobil dikerahkan ke seluruh kota Jakarta.

Baca juga: Ketika Sri Sultan HB IX Keliling Dunia untuk Mengenalkan Indonesia

Propaganda ini dimaksudkan pula untuk mengerahkan massa agar hadir dalam pembacaan teks proklamasi di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Setelah proklamasi dikumandangkan, berita proklamasi yang sudah tersebar di seluruh penjuru kota Jakarta, segera disebarluaskan ke seluruh Indonesia. Pada hari itu juga teks proklamasi sudah diserahkan oleh Syahrudin, wartawan Domei kepada kepala kantor bagian radio WB. Palenewen untuk disiarkan. Palenewen kemudian meminta F.Wuz seorang penyiar, agar menyiarkan berita proklamasi tiga kali berturut-turut.

Baca juga: Kata 'Indonesia' Berawal dari Diskusi di Meja Redaksi Logan

Tetapi, baru saja dua kali berita disiarkan, masuklah orang Jepang yang mengetahui siaran berita lewat udara, dan memerintahkan agar penyiaran dihentikan. Tetapi Penelewen tetap memerintahkan Wuz untuk tetap menyiarkan berita proklamasi, bahkan terus diulangi setiap setengah jam sampai pukul 16.00.

Akibatnya, pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita tersebut dan mengatakannya sebagai kekeliruan. Hal itu terungkap dalam buku "Sejarah Indonesia Masa Kemerdekaan : 1945-1998" karya Dr. Aman, M.Pd, 2015.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement