Share

Taliban Tidak Izinkan Warga Tinggalkan Afghanistan, Peringatkan AS Patuhi Tenggat Waktu Evakuasi

Susi Susanti, Okezone · Rabu 25 Agustus 2021 11:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 25 18 2460789 taliban-tidak-izinkan-warga-tinggalkan-afghanistan-peringatkan-as-patuhi-tenggat-waktu-evakuasi-taHc26D61h.jpg Evakuasi warga dari Afghanistan (Foto: Reuters)

AFGHANISTAN - Taliban mengatakan pada Selasa (24/8) mereka tidak mengizinkan evakuasi warga Afghanistan lagi dan memperingatkan Amerika Serikat (AS) harus mematuhi tenggat waktu minggu depan untuk menarik diri, karena kepanikan operasi evakuasi Barat yang meningkat di bandara Kabul.

Juru bicara Taliban Zabiullah Mujahid mengatakan pada konferensi pers Selasa (24/8) jika sementara warga negara asing dapat melanjutkan perjalanan ke bandara, kerumunan besar warga Afghanistan yang telah berkumpul di sana dalam beberapa hari terakhir harus kembali ke rumah dan tidak akan menghadapi pembalasan dari penguasa baru negara itu.

"Jalan yang menuju bandara diblokir. Warga Afghanistan tidak bisa mengambil jalan itu untuk menuju bandara, tetapi warga negara asing diizinkan untuk mengambil jalan itu ke bandara," terangnya.

"Kami tidak mengizinkan evakuasi warga Afghanistan lagi dan kami juga tidak senang dengan itu," lanjutnya.

“Para dokter dan akademisi Afghanistan tidak boleh meninggalkan negara ini, mereka harus bekerja di bidang spesialis mereka sendiri," ujarnya.

(Baca juga: Inggris Evakuasi 7.000 Orang Lebih dari Afghanistan)

"Mereka seharusnya tidak pergi ke negara lain, ke negara-negara Barat itu,” tambahnya.

Mujahid juga memberikan jaminan bahwa kedutaan asing dan lembaga bantuan akan tetap buka.

Pengumuman itu datang ketika Presiden AS Joe Biden menjelaskan pihaknya akan tetap pada tenggat waktu 31 Agustus untuk menarik pasukan dari Afghanistan - selama Taliban tidak mengganggu operasi evakuasi yang sedang berlangsung atau akses bandara. Adapun sekutu top AS telah meminta perpanjangan untuk mengevakuasi lebih banyak orang.

Ditanya tentang pernyataan dari Taliban, sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki mengatakan bahwa seharusnya tidak berdampak pada warga Afghanistan yang diprioritaskan oleh AS untuk meninggalkan negara itu.

(Baca juga: PBB Terima Laporan Pelanggaran Eksekusi yang Dilakukan Taliban ke Warga Afghanistan)

"Tidak. Bukan begitu cara membacanya," terangnya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

“Harapan kami yang juga sudah kami sampaikan kepada Taliban, mereka harus bisa sampai ke bandara,” ungkapnya.

Kebanyakan dari mereka yang melarikan diri dari negara itu sejak Taliban mengambil alih adalah orang-orang terpelajar, terutama wanita. Terakhir kali Taliban memerintah, wanita dilarang bekerja dan dilarang bersekolah.

Para pengamat tetap meragukan janji Taliban tersebut di tengah laporan pelanggaran hak asasi manusia dan kekhawatiran bahwa situasinya akan semakin memburuk setelah sebagian besar komunitas internasional meninggalkan negara itu.

Sementara itu, para pemimpin G7 bertemu pada Selasa (24/8) dalam forum internasional pertama sejak Taliban menggulingkan pemerintah Afghanistan yang didukung internasional lebih dari seminggu yang lalu.

Mereka telah meminta Taliban untuk menjamin perjalanan yang aman bagi semua orang yang ingin meninggalkan Afghanistan setelah 31 Agustus. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menggambarkan ini sebagai "kondisi nomor satu" G7 untuk Taliban.

"Syarat nomor satu yang kami tetapkan sebagai G7 adalah bahwa mereka harus menjamin jalan melalui - hingga 31 Agustus dan seterusnya - perjalanan yang aman bagi mereka yang ingin keluar," terangnya setelah pertemuan virtual G7.

Biden telah meminta rencana darurat jika tenggat waktu penarikan AS molor, meskipun operasi berjalan sesuai jadwal untuk saat ini.

"Semakin cepat kita dapat menyelesaikan lebih baik. Setiap hari operasi membawa risiko tambahan bagi pasukan kita, tetapi penyelesaian pada 31 Agustus tergantung pada Taliban yang terus bekerja sama dan mengizinkan akses ke bandara bagi mereka yang kita angkut, dan tidak mengganggu operasi kami," urai Biden saat konferensi pers pada Selasa (24/8).

"Selain itu, saya telah meminta Pentagon dan Departemen Luar Negeri untuk rencana darurat untuk menyesuaikan jadwal jika diperlukan," ujarnya.

Biden telah menghadapi tekanan yang meningkat dari sekutu utama AS, termasuk Inggris dan Prancis, untuk memperpanjang tenggat waktu.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini