Usai Berpolemik, Bupati Jember Kembalikan Honor Pemakaman Covid-19

Avirista Midaada, Okezone · Sabtu 28 Agustus 2021 06:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 28 519 2462421 usai-berpolemik-bupati-jember-akhirnya-kembalikan-honor-pemakaman-covid-19-I10kKjTFRI.jpg Bukti setoran pengembalian honor pemakaman Covid-19 Kabupaten Jember (Foto: Avirista M)

JEMBER – Bupati Jember Hendy Siswanto akhirnya mengembalikan honor pemakaman Covid-19 lantaran menuai polemik. Selain Hendy Siswanto, sejumlah pejabat lainnya turut mengembalikan dana ini yakni Sekretaris Daerah (Sekda) Mirfano, Plt Kepala BPBD Jember M. Jamil dan dua orang kepala bidang BPBD.

Total masing–masing mereka menerima dana Rp 70.500.000, dengan rinciannya per pemakaman menerima Rp100 ribu per orangnya.

Baca Juga:  Sekda Jember Buka-bukaan soal Honor Selangit Pemakaman Covid-19

Sekda Jember Mirfano pun angkat bicara dan mengklaim telah mengembalikan dana tersebut ke kas daerah Kabupaten Jember. Mirfano menyebut menyaksikan langsung staf bendaharanya menyerahkan honor itu ke kas daerah di Bank Jatim Jember.

“Sudah dikembalikan ke Kasda, nominalnya untuk 4 orang pejabat, saya, Pak Bupati, Plt Kepala BPBD dan kabidnya, masing – masing Rp70,5 juta. Jadi totalnya ada Rp282 juta,” ucap Mirfano dikonfirmasi media, pada Jumat petang (27/8/2021).

Namun, dana tersebut ditegaskannya bukan untuk kepentingan pribadi Bupati Jember dan sejumlah pejabat lainnya, melainkan disumbangkan ke keluarga korban Covid-19. Sehingga uang yang dikembalikan bupati ke kas daerah merupakan uang pribadi Hendy Siswanto sendiri.

"Sehingga (honor disumbangkan) tersebut yang dilakukan bupati, diganti dengan dari uangnya sendiri. Karena uangnya yang dari honor itu juga ikut dikembalikan," kata Mirfano.

Baca Juga:  Peristiwa 28 Agustus: Ketua Umum Gerindra Pertama Meninggal Dunia

Ia pun menjelaskan awal mula bupati dan pejabat lainnya mendapat dana pemakaman tersebut. Menurutnya dana itu untuk kepengerusan jenazah Covid-19 di bulan Juli 2021 lalu. Dimana disebutkannya ada lebih dari 1.000 pemakaman jenazah Covid-19 saat itu.

“Kami harus menjamin tidak boleh ada satupun jenazah yang terlantar, di lapangan para petugas pemakaman harus bekerja dari pagi sampai pagi lagi. Karena pada bulan Juli itu kematian karena covid rata-rata lebih dari 50 orang per hari, saat puncaknya serangan pandemi. Para petugas pemakaman juga harus berhadapan dengan keluarga yang marah dan sempat ada kekerasan fisik,” pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini