Share

Taliban Umumkan Kabinet Baru, Tidak Ada Wanita yang Menjadi Menteri

Susi Susanti, Okezone · Rabu 08 September 2021 09:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 08 18 2467882 taliban-umumkan-kabinet-baru-tidak-ada-wanita-yang-menjadi-menteri-OCC3tVyoce.jpg Taliban umumkan susunan kabinet baru (Foto: Anadolu Agency)

KABUL - Taliban telah menunjuk Mohammad Hasan Akhund, ajudan dekat mendiang pendiri kelompok itu Mullah Omar, sebagai kepala pemerintahan sementara baru Afghanistan, beberapa minggu setelah mereka menguasai negara itu.

Daftar anggota kabinet yang diumumkan oleh juru bicara Zabihullah Mujahid pada Selasa (7/9) didominasi oleh anggota lama kelompok itu. Kabinet baru ini juga tidak menyertakan kehadiran wanita sebagai menteri.

Abdul Ghani Baradar, kepala kantor politik Taliban, akan menjadi wakil pemimpin. Lalu Sirajuddin Haqqani, putra pendiri Jaringan Haqqani, ditunjuk sebagai menteri dalam negeri.

Mullah Mohammad Yaqoob, putra Mullah Omar, ditunjuk sebagai menteri pertahanan. Hedayatullah Badri akan menjadi penjabat menteri keuangan, sementara Amir Khan Muttaqi, seorang negosiator Taliban di Doha, diangkat menjadi menteri luar negeri.

(Baca juga: Taliban Umumkan Susunan Kabinet Baru, Masih Bersifat Sementara)

“Imarah Islam memutuskan untuk menunjuk dan mengumumkan kabinet sementara untuk melaksanakan pekerjaan pemerintah yang diperlukan,” terang Mujahid.

Susunan kabinet ini memiliki 33 menteri pemerintahan Islam baru. Nantinya jabatan yang tersisa akan diumumkan setelah pertimbangan yang cermat.

Berbicara pada konferensi pers di ibukota Afghanistan, Kabul, Mujahid menekankan kabinet adalah pemerintah ‘bertindak’ dan bahwa kelompok itu akan mencoba mengambil orang dari bagian lain Afghanistan’.

(Baca juga: Menlu AS Bantah Taliban Halangi Warga AS Tinggalkan Afghanistan)

Dalam sebuah pernyataan pada Selasa (7/9), Mullah Haibatullah Akhunzada, pemimpin tertinggi Taliban, mengatakan pemerintah baru akan bekerja untuk menegakkan hukum syariah di Afghanistan.

“Saya meyakinkan semua warga negara bahwa para tokoh akan bekerja keras untuk menegakkan aturan Islam dan hukum syariah di negara ini,” terangnya.

Dia mengatakan kepada rakyat Afghanistan bahwa kepemimpinan baru akan memastikan "perdamaian, kemakmuran, dan pembangunan yang langgeng". Dia menambahkan bahwa "orang-orang tidak boleh mencoba meninggalkan negara itu".

“Imarah Islam tidak memiliki masalah dengan siapa pun,” katanya.

“Semua akan ambil bagian dalam memperkuat sistem dan Afghanistan dan dengan cara ini, kami akan membangun kembali negara kami yang dilanda perang,” lanjutnya.

Dilaporkan dari Kabul, Charles Stratford dari Al Jazeera mengatakan banyak dari penunjukan melibatkan "wajah-wajah lama".

“Penting juga untuk mengatakan bahwa banyak dari nama-nama ini, sebagian besar dari mereka sebenarnya Pashtun dan tidak mempertimbangkan, bisa dibilang kritikus akan mengatakan, keragaman etnis yang besar di negara ini,” terangnya.

Mengomentari pengumuman Taliban, Obaidullah Baheer, dari American University of Afghanistan, mengatakan bahwa hal itu tidak membantu mereka untuk mendapatkan pengakuan internasional.

“Jumlah waktu yang dihabiskan bukan untuk membahas atau menegosiasikan inklusivitas atau potensi pembagian kekuasaan dengan partai politik lain. Waktu itu dihabiskan untuk mengetahui cara membagi kue itu di antara barisan mereka sendiri,” ujarnya kepada Al Jazeera dari Kabul.

Kelompok itu telah menjanjikan pemerintah "inklusif" yang mewakili susunan etnis Afghanistan yang kompleks - meskipun perempuan tidak mungkin dimasukkan di tingkat atas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini