Pria yang Tampar Presiden Prancis Tidak Menyesal, Terima Banyak Surat Dukungan

Susi Susanti, Okezone · Senin 13 September 2021 07:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 13 18 2470336 pria-yang-tampar-presiden-prancis-tidak-menyesal-terima-banyak-surat-dukungan-p5iKu0hYwA.jpg Presiden Prancis Emmanuel Macron ditampar (Foto: RT)

PRANCIS - Seorang pria yang menghabiskan beberapa bulan di balik jeruji besi karena menampar Presiden Prancis Emmanuel Macron musim panas ini mengatakan dia telah menerima banyak surat yang mendukung 'tindakan politiknya'.

Damien Tarel mengatakan kepada BFM TV bahwa dia merasa tidak menyesal karena menyerang kepala negara Prancis.

“Saya menyayangkan kekerasan fisik. Namun demikian, itu hanya tamparan kecil. Saya percaya Macron telah pulih dengan sangat baik,” katanya.

Dia berencana untuk menghadiri protes terhadap izin kesehatan Covid-19 dalam waktu dekat.

Pria berusia 28 tahun itu dibebaskan pada Sabtu (11/9) setelah menjalani hukuman penjara karena menampar Macron pada awal Juni lalu. Dia memukul Presiden saat dia menyapa kerumunan penonton selama perjalanan ke Prancis selatan.

(Baca juga: Presiden Prancis Emmanuel Macron Ditampar saat Kunjungan Resmi)

"Montjoie, Saint-Denis!" – seruan perang Prancis abad pertengahan – dan “Turunkan Macronia!” terang Tarel, penggemar ilmu pedang sejarah, ketika dia memukul Presiden.

“Hari itu saya datang untuk menantang Presiden Emmanuel Macron,” kata Tarel setelah dibebaskan.

“Saya tidak percaya bahwa demokrasi memberikan suara setiap lima tahun sekali untuk seorang wakil yang pada akhirnya tidak mewakili banyak orang,” lanjutnya.

Dalam wawancara terpisah dengan radio France Bleu, pemuda itu menyebut tindakannya hari itu sebagai “tindakan politik.”

“Jika saya harus kembali ke masa lalu, saya akan melakukan hal yang sama lagi. Saya tidak menyesal,” terangnya.

(Baca juga: Meski Kena Tampar, Presiden Prancis Tetap Ingin Bertemu Warga)

Tarel mengaku menerima "ratusan" surat dukungan selama berada di balik jeruji besi.

“Saya terkejut melihat betapa banyak orang memahami makna politik dari tindakan saya,” jelasnya.

Selama persidangan, Tarel berbicara dengan simpatik tentang apa yang disebut protes 'Rompi Kuning' - demonstrasi anti-pemerintah skala besar, yang memuncak pada 2018 dan 2019.

Macron meremehkan tamparan itu sebagai insiden yang terisolasi pada saat itu, menekankan bahwa kekerasan terhadap pejabat publik tidak dapat diterima. Serangan terhadap Presiden dikutuk oleh banyak politisi terkemuka di Prancis, termasuk lawan Macron.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini