PM Pakistan Minta Dunia Berikan Waktu untuk Taliban

Vanessa Nathania, Okezone · Jum'at 17 September 2021 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 17 18 2472841 pm-pakistan-minta-dunia-berikan-waktu-untuk-taliban-r4H0pZvboA.jpg PM Pakistan Imran Khan saat wawancara dengan CNN (Foto: CNN)

ISLAMABAD - Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan mengatakan cara terbaik untuk perdamaian dan stabilitas di Afghanistan adalah terlibat dengan Taliban dan memberi bantuan kepada mereka, pada isu-isu seperti hak-hak perempuan dan pemerintahan yang inklusif.

Dia mengatakan saat ini dunia harus "memberi mereka waktu" untuk membentuk pemerintahan yang sah dan memenuhi janji mereka.

Pada Rabu (15/9), Khan melakukan wawancara pertamanya sejak Taliban menguasai Afghanistan dengan organisasi berita internasional, CNN dari kediaman pribadinya di Bani Gala, Islamabad. Dia membicarakan tentang mempertahankan hubungan “mengerikan” Pakistan-AS dan mencari pendekatan yang lebih pragmatis dalam menangani pemimpin baru Afghanistan.

“Taliban menguasai seluruh Afghanistan dan jika mereka sekarang dapat bekerja menuju pemerintahan yang inklusif, menyatukan semua faksi, Afghanistan akan mendapatkan perdamaian setelah 40 tahun. Tetapi jika itu salah dan yang dikhawatirkan adalah bisa menjadi kacau. Krisis kemanusiaan terbesar, masalah pengungsi yang sangat besar," terangnya.

(Baca juga: Pakistan: Gagal Capai Kesepakatan Damai di Afghanistan, Picu Anarki Paska Penarikan Pasukan AS)

Khan mengklaim Taliban mencari bantuan internasional untuk menghindari krisis, yang dapat digunakan untuk mendorong kelompok itu ke "arah yang benar menuju legitimasi." Namun dia memperingatkan jika Afghanistan tidak dapat dikendalikan oleh pasukan luar.

"Tidak ada pemerintahan boneka di Afghanistan yang didukung oleh rakyat," ujarnya.

“Jadi daripada duduk di sini dan berpikir bahwa kita dapat mengendalikan mereka, kita harus memberi mereka bantuan. Karena Afghanistan, pemerintah saat ini, jelas merasa bahwa tanpa bantuan dan pertolongan internasional, mereka tidak akan dapat menghentikan krisis ini. Jadi kita harus mendorong mereka ke arah yang benar,” lanjutnya.

(Baca juga: PM Pakistan Puji Rencana Perdamaian Biden)

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 18 juta warga Afghanistan – hampir setengah dari populasi – membutuhkan bantuan untuk menghadapi situasi yang mengerikan dari konflik yang berlarut-larut, kemiskinan, kekeringan berturut-turut, penurunan ekonomi, dan pandemi virus corona, yang terjadi bahkan sebelum Taliban kembali berkuasa.

Sama seperti kejadian tahun 1989 di mana Soviet menarik pasukannya dan mengakibatkan “pertumpahan darah”, Khan juga mengira pertumpahan darah serupa terjadi setelah pasukan AS pergi dari Afghanistan dan Taliban berkuasa, menanggapi para kritikus yang mengatakan Taliban akan mengacaukan negara.

"Badan intelijen kami memberi tahu kami bahwa Taliban tidak akan dapat mengambil alih seluruh Afghanistan, dan jika mereka mencoba mengambil Afghanistan secara militer, akan ada perang saudara yang berkepanjangan, itulah yang kami takutkan karena pada akhirnya kamilah yang paling menderita," jelasnya.

Sementara itu, terkait peranan perempuan di sana, Khan memberikan pendapatnya. "Adalah kesalahan untuk berpikir bahwa seseorang dari luar akan memberikan hak-hak perempuan Afghanistan. Perempuan Afghanistan kuat. Beri mereka waktu. Mereka akan mendapatkan hak-hak mereka,” terangnya.

"Perempuan harus memiliki kemampuan dalam masyarakat untuk memenuhi potensi mereka dalam hidup," ujarnya.

“Di Pakistan, apa yang telah kami lakukan adalah kami sebenarnya telah membayar tunjangan kepada keluarga miskin untuk membuat anak perempuan belajar di sekolah karena kami merasa bahwa jika anak perempuan itu belajar, jika mereka memiliki pendidikan, mereka akan mendapatkan haknya sendiri," lanjutnya.

Sebelumnya, Taliban juga sudah berupaya untuk meningkatkan kepercayaan internasionalnya sejak berhasil mengambil alih kekuasaan, dengan janji akan menegakkan hak asasi manusia, khususnya mengenai perempuan dan anak perempuan, serta mengizinkan jurnalis untuk melanjutkan pekerjaan mereka.

Namun, pada kenyataannya, perempuan telah dihilangkan dari sistem pemerintahan sementara Taliban. Mereka juga diperintahkan untuk tinggal di rumah di beberapa daerah, dan pendidikan mereka dibatasi. Berdasarkan laporan juga menyebutkan protes terhadap pemerintahan Taliban dan hak-hak sipil telah ditekan dengan kekerasan, wartawan juga ditangkap dan dipukuli habis-habisan.

Banyak komunitas internasional merasa tidak ada harapan untuk Taliban akan membuat kemajuan dalam menegakkan hak-hak perempuan. Karena, secara historis di periode 1996-2001, Taliban memperlakukan perempuan sebagai warga negara kelas dua, menjadikan mereka sasaran kekerasan, pernikahan paksa dan kehadiran yang nyaris tak terlihat di negara itu.

Kelompok tersebut melarang perempuan bekerja, melarang mereka meninggalkan rumah tanpa pendamping, dan memaksa mereka untuk menutupi seluruh tubuh mereka.

Dalam beberapa hari terakhir, Taliban telah mengamanatkan pemisahan jenis kelamin di ruang kelas dan mengatakan mahasiswa perempuan, dosen dan karyawan harus mengenakan jilbab sesuai dengan interpretasi kelompok hukum Syariah. Seorang pejabat Taliban mengumumkan bahwa perempuan tidak akan diizinkan bermain kriket dan olahraga lainnya.

Kelompok Taliban juga telah menggunakan cambuk dan tongkat terhadap pengunjuk rasa perempuan, yang turun ke jalan dalam protes sporadis di seluruh negeri menuntut persamaan hak.

“Bertentangan dengan jaminan bahwa Taliban akan menegakkan hak-hak perempuan, selama tiga minggu terakhir perempuan malah semakin dikucilkan dari ruang publik,” terang Kepala hak asasi manusia PBB, Michele Bachelet di Jenewa, Senin (13/09).

  • Penarikan pasukan AS

Khan sebelumnya mengkritik keluarnya AS dari Afghanistan dan mengatakan dia belum berbicara dengan Presiden Joe Biden sejak pengambilalihan Taliban, meskipun Pakistan menjadi sekutu utama non-NATO.

"Saya membayangkan dia - Joe Biden - sangat sibuk, tetapi hubungan kami dengan AS tidak hanya bergantung pada panggilan telepon, tetapi perlu hubungan multidimensi," terangnya.

Khan mencoba menjelaskan ketidaknyamanan yang dirasakan Pakistan selama AS 20 tahun perang dengan Afghanistan.

"Kami (Pakistan) seperti senjata sewaan," ujarnya.

"Kami harus membuat mereka (AS) memenangkan perang di Afghanistan, hal yang tidak pernah kami bisa lakukan,” tuturnya.

Khan mengatakan dia berulang kali memperingatkan para pejabat AS bahwa Amerika tidak dapat mencapai tujuannya secara militer, dan akan "terjebak di sana." Dia mengatakan AS seharusnya mencoba penyelesaian politik dengan Taliban dari "posisi yang kuat," pada puncak kehadirannya di Afghanistan, bukan dengan menarik diri.

Pakistan memiliki hubungan yang dalam dengan Taliban dan telah dituduh mendukung kelompok itu saat memerangi pemerintah yang didukung AS - tuduhan yang dibantah oleh Islamabad. Pada tahun 2018, pihak berwenang Pakistan membebaskan pejabat tinggi Taliban, Mullah Baradar dari penjara dengan tujuan bernegosiasi dengan AS. Pekan lalu dia ditunjuk sebagai wakil perdana menteri di kabinet Taliban yang semuanya laki-laki.

Pada Senin (13/9), Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken mengatakan AS akan menilai kembali hubungannya dengan Pakistan setelah penarikan. Dia juga mengatakan kepada Kongres selama sidang komite Urusan Luar Negeri DPR bahwa Pakistan memiliki beragam kepentingan yang beberapa bertentangan dengan AS.

"Pakistan adalah salah satu negara yang secara konstan berupaya menjaga visinya terkait masa depan Afganistan, ia juga negara yang terlibat dalam menampung anggota Taliban ... Ia juga terlibat dalam beberapa poin kerjasama terkait kontraterorisme dengan kami," terangnya, dikutip Reuters.

Khan menyebut komentar sebagai hal yang ‘bodoh. "Saya belum pernah mendengar kebodohan semacam itu,” ujarnya.

Sebagai negara tetangga dengan ikatan budaya yang mendalam, nasib Pakistan terikat dengan nasib Afghanistan. Kekerasan, pergolakan politik dan krisis kemanusiaan di Afghanistan semuanya tak terhindarkan dan berdampak ke perbatasan. Bagi Khan, invasi AS ke Afghanistan pada tahun 2001 merupakan bencana bagi Pakistan.

Menurut Khan, ribuan orang Pakistan kehilangan nyawa mereka dalam serangan teroris oleh kelompok-kelompok militan karena dukungan negaranya untuk AS.

"Hanya karena kami memihak AS, kami menjadi sekutu AS setelah 9/11 dan perang di Afghanistan. Penderitaan yang dialami negara ini pada satu titik ada 50 kelompok militan yang menyerang pemerintah kami... di atas semua itu, mereka juga harus tahu ada 480 serangan drone oleh AS di Pakistan," tambahnya.

"Hanya saat sebuah negara diserang oleh sekutunya," katanya tentang serangan AS.

Khan membantah klaim AS yang telah berulang kali menuduh Pakistan menyembunyikan teroris dan memberi mereka tempat berlindung yang aman.

"Apa tempat berlindung yang aman ini?" tanya Khan.

"Wilayah Pakistan di sepanjang perbatasan Afghanistan memiliki pengawasan terberat oleh pesawat tak berawak Amerika Serikat ... pasti mereka akan tahu jika ada tempat berlindung yang aman?,” lanjutnya.

"Pertanyaannya adalah, apakah Pakistan dalam posisi untuk mengambil tindakan militer terhadap Taliban-Afghanistan ketika negara itu sudah diserang dari dalam, dari Taliban-Pakistan yang menyerang negara Pakistan?" terangnya.

Khan mengatakan dia tidak bisa menghancurkan negaranya untuk "melawan perang orang lain."

“Taliban-Afghanistan tidak menyerang kami. Saya berharap jika saya berada di pemerintahan. Saya akan mengatakan kepada AS bahwa kami tidak akan menyerang mereka secara militer karena pertama, kami harus melayani rakyat. Tanggung jawab saya adalah untuk orang-orang di negara saya," kata Khan.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini