Paul Rusesabagina, Pahlawan 'Hotel Rwanda' Divonis 25 Tahun Penjara Atas Tuduhan Terorisme

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 21 September 2021 08:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 21 18 2474430 paul-rusesabagina-pahlawan-hotel-rwanda-divonis-25-tahun-penjara-atas-tuduhan-terorisme-5ick4CXzlY.jpg Paul Rusesabagina. (Foto: Reuters)

KIGALI - Seorang pria yang digambarkan dalam film sebagai pahlawan yang menyelamatkan banyak nyawa selama genosida Rwanda telah dijatuhi hukuman 25 tahun karena terorisme oleh pengadilan di Rwanda.

Paul Rusesabagina, (67 tahun), dinyatakan bersalah mendukung kelompok pemberontak di balik serangan mematikan pada 2018 dan 2019. Keluarganya menyebut persidangan itu palsu, mengatakan dia dibawa ke Rwanda, dari pengasingan, dengan paksa.

BACA JUGA: Tragedi Pembantaian Rwanda dan Pertikaian Suku Hutu-Tutsi

Amerika Serikat (AS), negara di mana Rusesabagina tinggal, mengatakan prihatin dengan vonis tersebut.

Perjalanannya dari tokoh terkenal menjadi musuh negara terjadi seiring dengan meningkatnya kritiknya terhadap pemerintah.

Dia awalnya dipuji atas tindakannya selama genosida 27 tahun lalu.

Dalam film nominasi Oscar Hotel Rwanda, Rusesabagina yang diperankan oleh Don Cheadle ditampilkan sebagai manajer hotel yang berhasil melindungi lebih dari 1.000 orang yang mencari perlindungan.

BACA JUGA: Mantan Wali Kota Rwanda Divonis Seumur Hidup Atas Peran dalam Genosida 1994

Dalam kurun waktu 100 hari sejak April 1994, 800.000 orang, sebagian besar dari suku Tutsi, dibantai oleh para ekstremis dari komunitas Hutu.

Beberapa penyintas mempertanyakan versi kejadian dalam film 2005.

Tetapi ketika profil Rusesabagina semakin mendapat perhatian setelah film itu dirilis. Kritiknya terhadap pemerintah pasca-genosida dan Presiden Paul Kagame mendapatkan perhatian yang lebih luas.

Dia berbicara tentang pelanggaran hak asasi manusia dan menuduh bahwa pemerintah menargetkan Hutu.

Kelompok hak asasi menuduh Front Patriotik Rwanda (RPF) yang berkuasa telah menyerang dan menangkap lawan-lawan politik. Human Rights Watch mengatakan bahwa penahanan sewenang-wenang, perlakuan buruk, dan penyiksaan adalah "biasa" oleh RPF.

Tinggal di pengasingan, Rusesabagina kemudian memimpin koalisi oposisi, yang memiliki sayap bersenjata - Front Pembebasan Nasional (FLN).

Dalam pesan video 2018, ia menyerukan perubahan rezim dengan mengatakan bahwa "waktunya telah tiba bagi kita untuk menggunakan segala cara yang mungkin untuk membawa perubahan di Rwanda".

FLN dituduh melakukan serangan pada 2018 dan 2019, yang menurut pihak berwenang menewaskan sembilan orang. Rusesabagina mengatakan dia tidak pernah meminta siapa pun untuk menargetkan warga sipil tetapi mengaku mengirim uang kepada kelompok itu.

Keluarga Rusesabagina mengatakan dia diculik dan dibawa secara paksa ke Rwanda tahun lalu. Namun, di pengadilan, seorang saksi berbicara tentang bagaimana dia menipu Rusesabagina untuk naik ke sebuah pesawat di Dubai dengan mengatakan kepadanya bahwa pesawat itu terbang ke negara tetangga Burundi, bukan Rwanda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini