Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Sedih Anak-Anak yang Disandera karena Pemberontakan Orangtuanya

Vanessa Nathania , Jurnalis-Selasa, 28 September 2021 |08:46 WIB
Kisah Sedih Anak-Anak yang Disandera karena Pemberontakan Orangtuanya
Anak-anak yang disandera karena pemberontakan orangtuanya (Foto: Soe Htay)
A
A
A

Setelah militer mengambil alih, Soe Htay turun ke jalan sebagai protes. Seperti ribuan orang lain di negara yang menentang pengambilalihan itu, Soe Htay menjadi sasaran junta militer.

Soe Htay mengatakan kepada CNN dari tempat persembunyiannya di hutan jika pada Juni lalu, beberapa bulan setelah dia berhenti memprotes karena takut ditembak oleh militer, tentara datang ke rumahnya di pusat kota Mogok Myanmar untuk menangkapnya.

Mereka menggerebek rumahnya empat kali, tetapi dia sudah bersembunyi bersama kedua putranya dan meninggalkan keluarga dekatnya.

Pada kunjungan terakhir di Juni lalu, mereka malah menangkap istri dan dua putrinya.

"Ini adalah penangkapan sandera," ujarnya.

“Karena mereka menangkap keluarga saya ketika mereka tidak bisa menangkap saya ... putri bungsu saya bahkan belum berusia 5 tahun,” terangnya.

Soe Htay mengatakan Su Htet Waing merayakan ulang tahunnya yang kelima di tahanan. Dia dibebaskan pada 30 Juni setelah 18 hari sebagai bagian dari pembebasan tahanan massal. Ibu dan saudara perempuannya tetap berada di balik jeruji besi, dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.

Media lokal melaporkan pasangan ibu dan anak itu didakwa dengan penghasutan - hukuman yang biasa dilontarkan pada aktivis pro-demokrasi.

Ketika Su Htet Waing ditahan, dia dipaksa dalam posisi setengah duduk, setengah berdiri, yang menyebabkan trauma mental.

Khaing Zin Thaw juga mencoba melawan junta -- dan seperti Soe Htay, keluarganyalah yang menanggung akibatnya.

Wanita berusia 21 tahun itu menggunakan perannya sebagai influencer media sosial untuk mengumpulkan uang bagi Gerakan Pembangkangan Sipil, ia melihat ribuan orang meninggalkan pekerjaan mereka untuk mengacaukan kudeta dan ekonomi. Dia membantu mengumpulkan sumbangan untuk mereka yang kehilangan pekerjaan dan berjuang untuk bertahan hidup. Khaing Zin Thaw juga membuat postingan yang mendukung gerakan tersebut di Facebook, di mana ia memiliki sekitar 700.000 pengikut.

Tapi sikapnya ini segera menempatkannya ke radar militer.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement