Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Sedih Anak-Anak yang Disandera karena Pemberontakan Orangtuanya

Vanessa Nathania , Jurnalis-Selasa, 28 September 2021 |08:46 WIB
Kisah Sedih Anak-Anak yang Disandera karena Pemberontakan Orangtuanya
Anak-anak yang disandera karena pemberontakan orangtuanya (Foto: Soe Htay)
A
A
A

Tak lama setelah kudeta Februari, dia meninggalkan rumah demi keselamatan dan terus bergerak sejak di Myanmar. Tetapi pada bulan April dia mendapat telepon yang mengkhawatirkan.

"Salah satu teman saya menelepon saya dan memberi tahu saya ada truk militer di luar rumah saya. Mereka menelepon kembali setengah jam kemudian dan mengatakan orang tuanya telah ditangkap," katanya.

Orang tuanya tidak melakukan kesalahan. Dengan suara bergetar dia mengatakan jika ayahnya bahkan tidak tahu cara menggunakan Facebook.

Adik iparnya juga dijadikan sandera menggantikan dirinya, tetapi telah dibebaskan.

"Saya mendengar bahwa ayah saya telah disiksa dan tidak meminta pengobatan ... kadang-kadang, pikiran saya kosong dan saya merasa seperti kehilangan akal sehat," katanya, menambahkan bahwa kedua orang tuanya telah didakwa dengan hasutan.

Khaing mengatakan dia sekarang berada di "tempat yang aman" tetapi harus terus bergerak karena takut dilacak oleh militer.

"Saya sedih dan gundah, dan saya frustrasi karena saya tidak bisa melakukan apa pun untuk orang tua saya di penjara," tambahnya.

Menurut Tom Andrews, pelapor khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Myanmar mengatakan terkadang junta tidak dapat menemukan lawannya. Junta militer pun mengejar sekelompok orang lain untuk menyebarkan ketakutan di antara penduduk dan membuat mereka jatuh dalam barisan anggota keluarga pembangkang.

"Ini mengerikan, ini mengerikan, ini keterlaluan dan benar-benar tidak dapat diterima, masyarakat internasional harus mengangkat senjata," katanya.

"Itulah kenyataan brutal yang kita hadapi di negara ini dan yang paling penting yang dihadapi rakyat Myanmar,” lanjutnya.

Andrews, pelapor khusus PBB, mengatakan dia telah mendengar banyak kasus serupa tentang anak-anak yang dihukum secara brutal karena pandangan politik orang tua mereka dalam beberapa bulan sejak junta militer mengambil alih.

"Posisi stres itu keterlaluan," katanya.

"Saya telah melihat laporan tentang anak-anak dipukuli, laporan tentang anak-anak yang kakinya dibakar oleh batang besi, saya telah melihat mereka ditahan selama beberapa hari,” ungkapnya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement