Kisah Hakim Wanita Afghanistan yang Bersembunyi dari Kejaran Taliban

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 29 September 2021 06:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 29 18 2478443 kisah-hakim-wanita-afghanistan-yang-bersembunyi-dari-kejaran-taliban-FcPCDQgjq6.jpg Para hakim wanita di Afghanistan (Foto: BBC)

KABUL - Mereka adalah pelopor hak-hak perempuan di Afghanistan. Mereka adalah pembela hukum yang tangguh, pencari keadilan bagi negara paling terpinggirkan. Namun saat ini, mereka menjadi hakim yang paling takut akan keselamatan nyawanya.

Tapi sekarang, lebih dari 220 hakim perempuan Afghanistan bersembunyi karena takut akan pembalasan di bawah pemerintahan Taliban. Enam mantan hakim perempuan berbicara kepada BBC dari lokasi yang dirahasiakan di Afghanistan. Nama narasumber disamarkan demi keselamatan mereka.

Selama perjalanan karirnya sebagai seorang hakim, Masooma telah menjatuhkan hukuman kepada ratusan pria atas kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk pemerkosaan, pembunuhan dan penyiksaan.

Tapi hanya beberapa hari setelah Taliban mengambil alih kekuasaan di kota tempat ia bekerja, ratusan penjahat yang pernah dihukum telah dibebaskan dari penjara.

 (Baca juga: PM Pakistan: Larangan Sekolah Bagi Perempuan Afghanistan Tidak Islami)

Lalu, ancaman pembunuhan dimulai.

Pesan tertulis, pesan suara, dan nomor-nomor yang tidak diketahui mulai membombardir teleponnya.

"Saat itu tengah malam, ketika kami mendengar Taliban membebaskan semua tahanan dari penjara," terang Masooma.

 (Baca juga: Taliban Janji Hak Atas Perempuan Akan Diterapkan Setelah Transportasi dan Lingkungan Aman)

"Segera kami melarikan diri. Kami meninggalkan rumah kami dan segalanya,” lanjutnya.

20 tahun lalu, sebanyak 270 perempuan mendapat posisi sebagai hakim di Afghanistan. Sebagai bagian dari perempuan terkuat dan berpengaruh di negara ini, mereka dikenal sebagai tokoh masyarakat.

"Pergi dengan menggunakan mobil, keluar dari kota, saya menggunakan burkak, jadi tak ada satu pun yang bisa mengenali saya. Untungnya, kami berhasil melewati semua pos-pos pemeriksaan Taliban,” ungkapnya.

Tak lama setelah ia melarikan diri, tetangganya mengirimkan pesan tertulis. Dalam pesan itu dituliskan sejumlah anggota Taliban tiba di rumah lamanya.

Begitu tetangganya mendeskripsikan pria itu, Masooma tahu siapa orang yang mencarinya.

Beberapa bulan lalu, sebelum Taliban berkuasa, Masooma memimpin sebuah kasus penyelidikan seorang anggota Taliban yang secara brutal membunuh istrinya.

Sampai pria itu dinyatakan terbukti bersalah, Masooma menghukumnya selama 20 tahun penjara.

"Saya masih terbayang-bayang wanita muda itu di kepala saya. Ini merupakan kejahatan brutal," ujarnya.

"Setelah kasusnya selesai, pelakunya mendekati saya dan mengatakan: 'Ketika saya keluar penjara, apa yang yang telah saya lakukan pada istri saya, saya akan lakukan pada Anda,” ungkapnya.

"Saat itu, saya tak menanggapinya secara serius. Tapi sejak Taliban berkuasa, dia berkali-kali menghubungi saya, dan ia mengaku telah mengambil semua informasi mengenai diri saya dari kantor pengadilan,” terangnya.

"Dia mengatakan pada saya: 'Saya akan menemukanmu, dan membalaskan dendam,” tambahnya.

Berdasarkan investigasi BBC, setidaknya masih terdapat 220 mantan hakim perempuan yang masih bersembunyi di Afghanistan.

Saat berbincang dengan enam mantan hakim perempuan dari provinsi yang berbeda, kesaksian mereka dalam lima minggu terakhir hampir sama.

Semua menerima ancaman pembunuhan dari anggota Taliban yang sebelumnya mereka jebloskan ke dalam penjara. Empat terpidana di antara pria yang dihukum bertanggung jawab atas pembunuhan istri mereka.

Hakim-hakim perempuan ini memutuskan untuk mengganti nomor telepon, setidaknya sekali, karena menerima ancaman pembunuhan.

Sekarang, mereka hidup dalam persembunyian, berpindah-pindah tempat setiap beberapa hari sekali.

Mereka semua juga mengatakan rumah lamanya telah didatangi oleh anggota Taliban. Para tetangga, dan koleganya mengaku ditanyai tentang keberadaan mereka.

Menanggapi tuduhan ini, juru bicara Taliban, Bilal Karimi mengatakan kepada BBC jika hakim perempuan semestinya hidup seperti keluarga lainnya tanpa ketakutan. “Tak ada satu pun yang mengancam mereka. Unit militer khusus kami wajib menyelediki temuan ini, dan bertindak kalau ada kekerasan,” terangnya.

Dia juga mengulangi janji Taliban soal "pengampunan umum" bagi semua mantan pekerja pemerintahan terdahulu di seluruh Afghanistan: "Pengampunan umum kami adalah sungguh-sungguh. Tapi jika ada yang ingin mengajukan diri untuk meninggalkan negara ini, harapan kami, mereka tidak melakukannya, dan mereka tetap tinggal di negara ini,” lanjutnya.

Selama pemebasan massal tahanan, banyak penjahat yang bukan bagian dari Taliban, juga ikut dibebaskan.

"Dalam kasus perdagangan narkotika, anggota mafia, niat kami adalah menghancurkan mereka. Tindakan kami untuk melawan mereka akan serius,” ujarnya saat ditanya mengenai keamanan bagi hakim perempuan.

Sebagai perempuan terpelajar, para hakim itu sebelumnya adalah tulang punggung keluarga. Tapi sekarang, tanpa adanya gaji, dan rekening tabungan mereka dibekukan, kehidupan mereka kini sangat bergantung dari bantuan para kerabat.

Lebih dari tiga dekade, Hakim Sanaa menyelidiki kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak.

Dia mengatakan, kebanyakan kasusnya melibatkan anggota Taliban, serta anggota ISIS.

"Saya menerima lebih dari 20 kali ancaman melalui sambungan telepon dari mantan narapidana yang sudah dibebaskan,” terangnya.

Dia saat ini bersembunyi dengan belasan kerabat terdekatnya.

Pernah satu kali, kerabat laki-lakinya kembali ke rumah lama Sanaa. Tapi saat ia mengemas pakaian, Taliban datang ke rumahnya dengan beberapa kendaraan yang penuh dengan pria bersenjata, dipimpin oleh seorang komandan.

"Saya membuka pintu. Mereka bertanya, apakah ini rumah hakim," katanya.

"Waktu saya bilang, saya tidak tahu di mana orangnya, mereka melempar saya ke tangga. Satu di antaranya mereka memukul saya dengan gagang senjata, dan mulai menghajar saya. Hidung dan mulut saya sampai tertutup dengan darah,” lanjutnya.

Setelah kelompok bersenjata itu pergi, kerabat Sanaa ini segera ke rumah sakit.

"Saya bilang ke kerabat lainnya supaya kita harus begantian menyediakan tempat tinggal untuk Sanaa. Sudah tidak ada jalan keluar sekarang. Kita tak bisa melarikan diri ke negara lain, bahkan ke Pakistan,” ungkapnya.

  • Berjuang untuk hak-hak perempuan

Dalam beberapa dekade, Afghanistan selalu berada di posisi pertama negara dengan tingkat kekerasan tertinggi di dunia. Menurut Human Rights Watch, diperkirakan 87% perempuan punya pengalaman mendapat kekerasan selama hidupnya.

Tapi kelompok hakim perempuan, yang bekerja untuk menegakkan hukum bagi pemerintahan sebelumnya, bertujuan untuk mendukung perempuan, membantu mengadvokasi gagasan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan remaja merupakan tindak pidana yang dapat dihukum.

Hal ini termasuk menangkap orang-orang yang terlibat dalam kasus pemerkosaan, penyiksaan, kawin paksa, serta dalam kasus di mana perempuan dilarang untuk memiliki properti atau pergi bekerja atau bersekolah.

Sebagai bagian dari perempuan paling berpengaruh di negaranya, keenam hakim ini mengaku menghadapi kekerasan selama karir mereka, jauh sebelum Taliban mengambil kekuasaan.

"Saya ingin melayani negara saya, oleh karenanya saya menjadi seorang hakim," kata hakim Asma dalam perbincangan di rumah yang aman.

"Di pengadilan urusan keluarga, saya kebanyakan menangani kasus-kasus perempuan yang ingin cerai atau pisah dari anggota Taliban,” terangnya.

"Ini merupakan ancaman yang nyata bagi kami. Pernah sekali, Taliban melepaskan roket ke gedung pengadilan,” jelasnya.

"Kami juga kehilangan seorang teman sekaligus hakim. Dia menghilang saat pulang ke rumah dari tempat kerjanya. Tak lama, mayatnya ditemukan,” lanjutnya.

Tak ada satu pun pernah ditahan atas pembuhunan itu. Saat itu, pimpinan Taliban di daerah itu membantah telah terlibat.

Wajah baru pemerintahan Afghanistan mengenai hak-hak perempuan masih belum jelas sepenuhnya. Tapi sejauh ini, kelihatannya akan suram.

Semua yang mengisi kabinet adalah laki-laki, tanpa ada yang berkecimpung dalam urusan perempuan. Sementara di sekolah, menteri pendidikan telah memerintahkan murid dan guru laki-laki untuk kembali beraktivitas, tapi tidak bagi staf dan murid perempuan.

Atas nama Taliban, Karimi mengatakan dia belum bisa berkomentar apakah akan ada perempuan yang menduduki posisi hakim di masa mendatang. "Kondisi dunia kerja, dan peluang kerja bagi perempuan masih didiskusikan,” terangnya.

Sejauh ini, lebih dari 100.000 orang telah dievakuasi dari Afghanistan.

Keenam hakim perempuan mengatakan, mereka saat ini sedang mencari cara untuk meninggalkan negara - tapi kendalanya bukan hanya karena kekurangan uang, tapi mereka mengatakan tak semua anggota keluarga dekat memiliki parpor.

Mantan hakim perempuan Afghanistan, Marzia Babakarkhail yang saat ini tinggal di Inggris, mengadvokasi untuk dilakukan evakuasi mendesak bagi semua mantan hakim perempuan.

Dia mengatakan, penting untuk tidak meninggalkan hakim-hakim perempuan yang tinggal di daerah pinggiran Afghanistan, jauh dari ibu kota Kabul.

"Ini meremukkan hati saya, ketika saya menerima telepon dari salah satu hakim yang tinggal di pedesaan: 'Marzia, apa yang harus kami lakukan? Ke mana kami harus pergi? Kami bisa segera mati,” terangnya.

"Masih ada akses ke media dan internet di Kabul. Para hakim masih bisa bersuara, tapi yang ada di daerah terpencil, mereka tak bisa apa-apa,” ujarnya.

"Banyak dari hakim perempuan ini tak punya paspor atau dokumen resmi untuk pergi. Tapi mereka tak bisa dilupakan. Mereka juga dalam bahaya besar,” lanjutnya.

Sejumlah negara, termasuk Selandia Baru dan Inggris, mengatakan mereka akan menawarkan bantuan. Tapi kapan bantuan ini tiba atau berapa banyak hakim yang dievakuasi, masih belum bisa dikonfirmasi.

Hakim Masooma mengatakan, dia takut janji-janji bantuan tersebut tidak datang tepat waktu.

"Kadang saya berpikir, apa kejahatan kami? Menjadi terpelajar? Berusaha untuk membantu perempuan dan menghukum kriminal?,” tanyanya.

"Saya cinta negeri saya. Tapi sekarang saya adalah seorang tahanan. Kami tak punya uang. Kami tak bisa meninggalkan negara ini,” terangnya.

"Lihatlah anak saya ini, saya tak tahu bagaimana menjelaskan kepadanya, kenapa dia tak bisa berbicara dengan anak-anak lain, atau bermain di lapangan. Dia sudah mengalami trauma,” ujarnya.

"Saya hanya bisa berdoa mengenai saat-saat di mana kami bisa bebas lagi,” tambahnya.

1
6

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini