Komisi Independen: 21 Staf WHO Terlibat Pelecehan Seksual Selama Krisis Ebola

Susi Susanti, Okezone · Rabu 29 September 2021 07:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 29 18 2478453 komisi-independen-21-staf-who-terlibat-pelecehan-seksual-selama-krisis-ebola-dLH7S2v9L4.jpeg WHO di Republik Demokratik Kongo (Foto: Shafaq News)

REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO - Komisi independen mengatakan pada Selasa (28/9) lebih dari 80 pekerja bantuan termasuk beberapa yang dipekerjakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terlibat dalam insiden pelecehan dan eksploitasi seksual selama krisis Ebola di Republik Demokratik Kongo.

Penyelidikan ini didorong oleh penyelidikan tahun lalu yang dilakukan Thomson Reuters Foundation dan The New Humanitarian ketika lebih dari 50 wanita menuduh pekerja bantuan dari WHO dan badan amal lainnya menuntut seks dengan imbalan pekerjaan antara 2018-2020.

Dalam laporannya yang telah lama ditunggu-tunggu, komisi menemukan bahwa sekitar 21 dari 83 tersangka pelaku adalah staf WHO, dan bahwa pelanggaran, termasuk sembilan tuduhan pemerkosaan, dilakukan oleh staf nasional dan internasional.

"Tim peninjau telah menetapkan bahwa para korban yang diduga dijanjikan pekerjaan sebagai imbalan hubungan seksual atau untuk mempertahankan pekerjaan mereka," kata anggota komisi Malick Coulibaly dalam konferensi pers.

(Baca juga: Kisah Traumatis di Balik Bekas Luka dan Tato di Wajah Penyintas Pelecehan Seksual)

Dia menjelaskan banyak dari pelaku laki-laki menolak untuk menggunakan kondom dan 29 dari perempuan hamil dan beberapa dipaksa untuk kemudian digugurkan oleh pelakunya.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang telah berjanji tidak menoleransi pelecehan seksual dan dikatakan sedang mencari masa jabatan kedua di badan kesehatan PBB, mengatakan laporan itu membuat "bacaan yang mengerikan" dan meminta maaf kepada para korban.

"Apa yang terjadi pada Anda seharusnya tidak pernah terjadi pada siapa pun. Itu tidak bisa dimaafkan. Prioritas utama saya adalah memastikan bahwa para pelaku tidak dimaafkan tetapi dimintai pertanggungjawaban," ujarnya. Dia menjanjikan langkah lebih lanjut.

Direktur regional Matshidiso Moeti mengatakan pihaknya bersikap "rendah hati, ngeri dan patah hati" dengan temuan itu.

(Baca juga: Gembong Pelecehan Seksual Anak Ditangkap, Dipenjara 27 Tahun)

Pejabat WHO mengatakan para pelaku telah dilarang dari pekerjaan WHO di masa depan. Sedangkan kontrak dari empat orang yang tersisa yang dipekerjakan oleh badan tersebut telah dihentikan.

Seorang gadis, 14 tahun bernama "Jolianne" dalam laporan itu, mengatakan kepada komisi bahwa dia menjual kartu isi ulang telepon di pinggir jalan pada April 2019 di Mangina ketika seorang pengemudi WHO menawarinya tumpangan pulang. Sebaliknya dia membawanya ke sebuah hotel dan dia diperkosa kemudian melahirkan anaknya.

Beberapa wanita, yang mengindikasikan bahwa mereka sudah bekerja, mengatakan kepada tim peninjau bahwa mereka terus dilecehkan secara seksual oleh pria dalam posisi pengawas staf WHO yang memaksa mereka berhubungan seks untuk mempertahankan pekerjaan mereka, mendapatkan bayaran atau mendapatkan posisi bayaran yang lebih baik.

Beberapa mengatakan mereka telah dipecat karena menolak berhubungan seks sementara yang lain tidak mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan bahkan setelah melakukan hubungan seksual.

Laporan itu menyebutkan korban diduga ‘tidak diberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan untuk pengalaman yang merendahkan seperti itu.’

Sementara itu, Menteri Hak Asasi Manusia Kongo tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Pada Juni tahun lalu, pemerintah Kongo mengumumkan berakhirnya wabah dua tahun yang menewaskan lebih dari 2.200 orang - wabah Ebola terbesar kedua sejak virus itu diidentifikasi pada tahun 1976. Kongo dan lembaga bantuan lainnya juga telah berjanji untuk menyelidiki insiden pelecahan seks tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini