Firasat akan terjadi sesuatu yang mengerikan di sana juga menjadi penyebab suami Monita sampai melarangnya sehingga ia mengurungkan niatnya untuk pergi.
Tidak lama setelah tsunami, salah satu anggota keluarganya yang selamat datang memberitahukan bahwa 12 orang itu sudah tidak selamat dan meninggal dunia. Namun sayang ia tidak sempat menemukan jenazah 12 orang keluarganya.
"Saat mencari di Rumah Sakit Bhayangkara ada banyak sekali mayat. Sudah tidak bisa dikenali dan terpaksa dimakamkan massal di pekuburan massal korban bencana Poboya. Kami di sini hanya menebak dan langsung mendirikan nisan di atasnya dengan menulis nama 12 orang ini," tambahnya.
Penziarah lainnya Muksin juga menceritakan hal yang kurang lebih sama. Adik iparnya yang menjadi korban tsunami dan dimakamkan di pekuburan massal tersebut.
"Ibaratnya dia datang kemari hanya untuk menjemput ajalnya. Padahal saat hari Jumat (hari terjadinya bencana) ia datang dari Surabaya sekitar jam 11 siang lewat. Kami bahkan sempat shalat Jumat bersama di masjid di Bandara Mutiara Sis Al-Djufrie," katanya.
Saudara iparnya itu datang ke Palu hanya untuk mengikuti iven lomba sepeda yang merupakan rangkaian dari Festival Pesona Palu Nomoni yang diadakan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kota Palu yang ke-40 saat itu.
"Sorenya ia ke Pantai Teluk Palu di kawasan penggaraman menaiki sepeda yang ia akan pakai saat lomba sepeda nanti. Saat di sana terjadilah gempa disusul tsunami dan ia menjadi salah satu korban yang meninggal dunia. Padahal ia berada di Palu belum sampai 12 jam," terangnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.