KABUL - Taliban mengatakan akun Twitter yang mengaku sebagai rektor baru kelompok militan untuk Universitas Kabul adalah akun palsu, dan membantah klaim yang dibuat dari akun tersebut.
Dilansir dari CNN dan beberapa media lainnya, yang melaporkan adanya sebuah tweet dari akun yang mengaku sebagai rektor Mohammad Ashraf Ghairat, yang menyatakan bahwa wanita akan dilarang tanpa batas waktu dari universitas, baik sebagai instruktur atau mahasiswa awal pekan ini.
"Saya memberikan kata-kata saya sebagai rektor Universitas Kabul. Selama lingkungan Islam yang nyata tidak disediakan untuk semua, wanita tidak akan diizinkan untuk datang ke universitas atau bekerja. Islam harus didahulukan," tulis tweet itu.
Tapi akun itu bukan milik rektor -- sepertinya milik seorang mahasiswa.
Berdasarkan informasi yang didapat dari CNN saat berbicara kepada orang yang mengendalikan akun tersebut pada Kamis (30/9), dia mengatakan dia adalah seorang mahasiswa Universitas Kabul berusia 20 tahun dan mengirim salinan ID mahasiswanya kepada CNN. Dia meminta CNN untuk memanggilnya Mahmoud, bukan nama aslinya, karena masalah keamanan.
Mahmoud mengatakan dia membuat akun Twitter pada 21 September setelah mengetahui bahwa Ghairat telah ditunjuk sebagai rektor.
(Baca juga: Pemerintah Taliban Resmi Umumkan Hak Pendidikan Perempuan)
Dia mengatakan dia marah tentang penunjukan Ghairat dan dampak Taliban yang lebih luas pada pendidikan di Afghanistan, dan memutuskan untuk mengungkapkan rasa frustrasinya dengan membuat akun tersebut.
"Saya memutuskan untuk membuat akun ini karena saya marah dan kecewa, sejak Afghanistan diambil alih oleh Taliban -- tidak hanya saya, semua warga Afghanistan, semua teman sekelas dan teman saya, mereka putus asa karena mereka tidak melihat masa depan di bawah kepemimpinan Taliban," terang Mahmoud.
"Itu adalah akun parodi. Saya tidak menyangka itu akan menarik banyak perhatian,” lanjutnya.