Pemimpin G20 Janji Cegah Bencana Ekonomi di Afghanistan

Susi Susanti, Okezone · Rabu 13 Oktober 2021 08:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 18 2485454 pemimpin-g20-janji-cegah-bencana-ekonomi-di-afghanistan-a4vVlwrYiX.jpg KTT virtual G20 (Foto: Reuters)

KABUL - Anggota kelompok ekonomi utama G20 telah berjanji untuk mencegah bencana ekonomi di Afghanistan. Hal ini diungkapkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) virtual pemimpin G20.

KTT virtual ini terjadi ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak para pemimpin dunia untuk menyuntikan miliaran dolar ke dalam ekonomi Afghanistan.

Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan kembali janji Jerman untuk memberikan bantuan sebesar 600 juta euro (Rp9,8 triliun).

Merkel, yang tidak mencalonkan diri untuk pemilihan ulang bulan lalu dan akan mundur sebagai kanselir setelah pemerintahan baru terbentuk, mengatakan negara itu seharusnya tidak dibiarkan "turun ke dalam kekacauan".

"Tidak seorang pun dari kita yang mendapatkan keuntungan jika seluruh sistem moneter di Afghanistan runtuh atau sistem keuangan runtuh," katanya kepada wartawan.

(Baca juga: Presidensi G20, Menlu Retno: Serah terima Dilakukan saat KTT di Roma)

"Maka bantuan kemanusiaan tidak bisa lagi diberikan. Tentu saja tidak pernah mudah untuk menarik garis, bisa dikatakan, tetapi untuk melihat 40 juta orang turun ke dalam kekacauan karena tidak ada pasokan listrik atau sistem keuangan - itu tidak bisa dan tidak boleh dilakukan. tujuan masyarakat internasional,” lanjutnya.

Kanselir mengatakan Taliban harus memberikan akses ke semua badan PBB yang memberikan bantuan, dan menekankan perlunya menghormati hak-hak anak perempuan dan perempuan.

Kata-kata Merkel itu juga digaungkan oleh Perdana Menteri Italia Mario Draghi, yang menjadi tuan rumah KTT virtual.

Dia mengatakan negara-negara G20 harus memiliki kontak dengan Taliban tetapi itu tidak berarti pengakuan terhadap pemerintah kelompok Islam itu.

(Baca juga: Bantuan Tertahan, Afghanistan Terancam Hadapi Krisis Kemanusiaan)

Tidak semua pemimpin G20 hadir. Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim perwakilan. Namun Draghi mengatakan semua peserta telah sepakat tentang perlunya memberikan lebih banyak bantuan.

Janji senada juga dilontarkan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen untuk memberikan 1 miliar euro (Rp16 triliun) ke Afghanistan dan ke negara-negara tetangga yang menerima pengungsi.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menekankan bahwa bantuan harus diberikan melalui organisasi internasional independen dan tidak langsung kepada Taliban yang berkuasa.

Tetapi sejauh ini uang yang akan datang sebagian besar telah dihitung dalam jutaan, hanya untuk menyediakan makanan dan obat-obatan darurat.

Para pemimpin juga membahas cara untuk mencegah Afghanistan menjadi surga bagi militan seperti al-Qaeda dan kelompok Negara Islam, dan kebutuhan untuk menyediakan jalan yang aman bagi warga negara asing dan warga Afghanistan yang berharap untuk meninggalkan Afghanistan.

KTT itu terjadi ketika para pejabat Barat dan Afghanistan bertemu di Qatar untuk membahas bantuan, masalah terorisme dan evakuasi orang asing.

Ini adalah pembicaraan langsung pertama antara kedua belah pihak sejak pasukan AS meninggalkan Afghanistan dan Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus.

  • 'Tidak ada yang bisa dimakan'

Pergerakan internasional baru-baru ini terjadi ketika Afghanistan menghadapi apa yang dikhawatirkan para pekerja bantuan adalah krisis kemanusiaan yang parah.

Warga Afghanistan telah menggambarkan kesulitan mereka kepada BBC.

"Tidak ada yang dapat ditemukan, dan bahkan jika tersedia, itu terlalu mahal dan tidak terjangkau," kata seorang pensiunan.

"Saya dibayar tahun lalu dan saya masih menunggu gaji saya, saya tidak punya apa-apa untuk dimakan bersama anak-anak saya,” lanjutnya.

Yang lain, seorang pegawai pemerintah di kota utara Takhar, mengeluh bahwa para pejabat berbohong tentang pembayaran gaji.

"Saya tidak menerima apa-apa," ujarnya.

"Pemerintahan macam apa ini? Kalau pegawai tidak masuk kerja, akan ada pengaduan dan penyelidikan. Tapi kalau tidak dibayar, bagaimana dia bisa bertahan?,” terangnya.

Wartawan BBC Jeremy Bowen baru-baru ini melaporkan dari ibukota Afghanistan, bagi orang miskin di Kabul, prioritasnya adalah mencegah kelaparan.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan pada konferensi donor bulan lalu di Jenewa bahwa tingkat kemiskinan melonjak dan layanan publik hampir runtuh.

Sekitar 40% dari PDB negara - output nasional - berasal dari bantuan, menurut Bank Dunia.

AS membekukan aset sebesar USD10 miliar (Rp142 triliun) di bank sentral negara itu setelah Taliban merebut Kabul pada 15 Agustus lalu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini