Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

4 Tokoh Sentral dalam Terbentuknya Sumpah Pemuda, dari M Yamin hingga WR Supratman

Tim Litbang MPI , Jurnalis-Kamis, 28 Oktober 2021 |06:51 WIB
4 Tokoh Sentral dalam Terbentuknya Sumpah Pemuda, dari M Yamin hingga WR Supratman
Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)
A
A
A

3. Muhammad Yamin

Muhammad Yamin lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat pada 22 Agustus 1903. Yamin memperoleh mendidikan dari HIS Palembang dan AMS Yogyakarta. Saat belajar di AMS, Yamin sanbgat tertarik mempelajari berbagai bahasa asing seperti Yunani dan Latin.

Ia juga menaruh minat besar terhadap sejarah purbakala. Sedianya, Yamin ingin melanjutkan pendidikan tingginya ke Leiden, Belanda. Namun, keinginan itu terpaksa ia pendam lantaran sang ayah meninggal dunia.

Akhirnya, Yamin memilih untuk belajar di Rechte Hoge School Batavia dan lulus di tahun 1932. Dirinya juga sangat dikenal dalam bidang kesusastraan. Yamin aktif menulis sair ataupun jurnal dalam bahasa Melayu dan Belanda, sejak tahun 1920an.

Dalam perumusan sumpah pemuda, Yamin mendorong penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sebenarnya, hal ini sudah ia singgung pada kongres Sumpah Pemuda pertama yang dilakukan apda 1926. Dalam pidatonya, Yamin menyebut tentang adanya kemungkinan-kemungkinan untuk bahasa dan kesusasteraan Indonesia di kemudian hari. Dirinya menganjurkan agar bahasa Melayu dianggap sebagai bahasa bangsa Indonesia.

4. W.R Supratman

Wage Rudolf Supratman, atau W.R Supratman dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ia lahir di Purworejo, 19 Maret 1903. Mengutip informasi yang ada dalam buku ‘Wage Rudolf Supratman’ karya Bambang Harlanto, Wage Supratman awalnya tertarik dengan dunia jurnalistik saat tinggal di Makassar pada 1924. Ia rajin berbincang dengan wartawan koran ‘Pemberitaan Makasser’.

Kekagumannya amat tinggi terhadap para wartawan itu. Sebab meskipun pendapatannya kecil, mereka tetap semangat berjuang demi mempertahankan idealism dan nasionalismenya. Ketika itu pula, Wage menyadari bahwa surat kabar sangat penting sebagai sarana komunikasi masyarakat. Karena rajin membaca koran, ia akhirnya juga tertarik dengan dunia politik. Wage bahkan sangat ingin pindah ke Jawa demi bisa bergabung dengan angkatan muda sebagai pejuang pergerakan.

Ketika kongres pemuda ke-2 dilaksanakan, Wage memainkan lagu secara instumental dengan biolanya. Lagu itu kemudian dikenal sebagai Indonesia Raya. Melansir buku ‘W.R Supratman: Guru Bangsa Indonesia’ yang diproduksi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), alunan biola milik Wage sontak membakar semangat para pemuda yang hadir. Melalui lagu ini, Wage ingin mengabadikan semangat anak muda tanah air untuk menegakkan kesatuan.

(Khafid Mardiyansyah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement