Share

Inggris Kucurkan Rp7 Triliun untuk Investasi iklim ke Indonesia Selama 10 Tahun

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 03 November 2021 19:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 03 18 2496278 inggris-kucurkan-rp7-triliun-untuk-investasi-iklim-ke-indonesia-selama-10-tahun-Z3eaa2gWyq.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Inggris mendukung komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca melalui deforestasi dan tata guna lahan, guna membatasi kenaikan suhu global. Sebagai pemilik hutan hujan utuh terbesar ketiga di dunia, hampir sepertiga hutan bakau dunia, dan sepertiga lahan hutan gambut tropis dunia, komitmen Indonesia ini dinilai dapat membuat perbedaan besar terhadap upaya global mengatasi perubahan iklim.

BACA JUGA: AS dan Indonesia Rayakan Keberhasilan Kerja Sama Atasi Perubahan Iklim dan Pelestarian Alam

Untuk mendukung upaya ini, Inggris berencana untuk berinvestasi hingga £350 juta (sekira Rp7 Triliun) selama 10 tahun dalam kemitraan baru dengan Indonesia. Kerja sama ini akan berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi, membantu mendukung Pemerintah Indonesia dalam upayanya melindungi dan memulihkan hutan serta keanekaragaman hayati nusantara yang signifikan secara global, mengatasi penyebab utama deforestasi dan degradasi lahan, serta mendorong pertumbuhan rendah karbon yang tangguh.

Kemitraan yang baru diumumkan ini akan berfokus pada penyediaan investasi hijau katalis, membuka lebih lanjut keuangan publik dan swasta agar membantu mencapai ambisinya bagi hutan dan penggunaan lahan untuk menjadi “net sink” karbon sebelum tahun 2030.

Inggris akan bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan mitra utama di sektor hutan dan penggunaan lahan untuk menentukan lokasi investasi berdasarkan kebutuhan, berkonsultasi dengan investor dan bisnis, organisasi multilateral dan pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan komunitas lokal.

BACA JUGA: Indonesia dan Inggris Perkuat Kerjasama di Bidang Pendidikan Tinggi

Secara global, hutan bertindak sebagai penyerap karbon, menyerap dua kali lebih banyak daripada yang dilepaskan ke atmosfer oleh deforestasi dan degradasi. Tetapi dari tiga hutan hujan tropis utama dunia, Lembah Sungai Kongo, Amazon dan hutan hujan Asia Tenggara, hanya Kongo yang tetap menjadi penyerap karbon yang kuat.

Dalam 20 tahun terakhir, hutan-hutan di Asia Tenggara secara kolektif menjadi sumber neto emisi karbon karena pembukaan hutan, kebakaran yang tidak terkendali, dan pengeringan lahan gambut.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Mengembalikan hutan-hutan ini, agar berfungsi sebagai penyerap karbon alami sangat penting dalam memerangi perubahan iklim. Indonesia telah membuat langkah besar ke arah itu, dengan pengurangan deforestasi yang berkelanjutan sejak 2016.

Pendanaan Inggris untuk Indonesia diumumkan sebagai bagian dari pendanaan Inggris yang baru sebesar £1,5 miliar (Rp30 triliun) untuk menghentikan dan membalikkan deforestasi secara global. Hal ini diumumkan sebagai bagian dari Kepresidenan Inggris untuk COP26 dan perjuangan global melawan perubahan iklim.

Duta Besar Inggris Owen Jenkins dan Direktur Urusan Pembangunan Kedutaan Besar Inggris Amanda McLoughlin akan mengunjungi Paviliun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta pada Kamis, (4/11/2021) untuk bertemu dengan para mitra di KLHK untuk merayakan kesepakatan program baru ini, sekaligus kemitraan yang lebih luas antara Inggris dan Indonesia di bidang Kehutanan dan Tata Guna Lahan.

“Saya sangat senang bahwa para menteri kami hari ini mengumumkan dukungan baru Inggris untuk prioritas Indonesia di bidang ini. Kami bangga dengan kemitraan jangka panjang kami dengan Indonesia dalam kehutanan dan tata guna lahan selama lebih dari 20 tahun,” kata Owen sebagaimana disampaikan dalam keterangan tertulis Kedutaan inggris di Jakarta, Rabu (3/11/2021).

“Kerja sama ini telah menghasilkan manfaat pembangunan dan perdagangan serta mendukung tujuan lingkungan - SVLK adalah contoh manfaat kerja sama ini, sistem nasional yang dioperasikan oleh Indonesia, untuk memverifikasi legalitas kayu yang diekspor, memungkinkan Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang memenuhi syarat untuk akses preferensial ke pasar Uni Eropa senilai USD1 miliar/tahun dan pasar Inggris senilai £200 juta (IDR 4 triliun) setahun, di bawah persyaratan FLEGT,” lanjutnya.

Lebih lanjut Owen menjelaskan bahwa Inggris juga melanjutkan kerja sama erat melalui inisiatif baru seperti menjadi Ketua Bersama dalam dialog Forests, Agriculture and Commodities Trade (FACT), untuk mendukung perdagangan komoditas global yang berkelanjutan.

“Saya berterima kasih kepada Indonesia karena telah menjadi contoh yang luar biasa, dan menantikan contoh-contoh baik lainnya dari Indonesia agar bisa menjadi inspirasi bagi negara-negara lain”, ujar Owen.

Ia yakin bahwa pengumuman program baru senilai £350 juta (setara Rp7 triliun) hari ini akan membantu memperbarui kemitraan kedua negara dan mendukung kepemimpinan Indonesia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini